Belajar, Sharing Informasi & Opini Tentang Bitcoin
Don't Trust, Verify #Disclaimer is always ON
Bukan Rekomendasi Investasi/Keuangan #DYOR

Apa Itu Bitcoin Halving dan Mengapa Hal Ini Mempengaruhi Kelangkaan?

Dalam jaringan bitcoin, ada salah satu peristiwa penting yang sangat berpengaruh pada ketersedian Bitcoin dari waktu ke waktu, peristiwa tersebut dikenal dengan Bitcoin Halving. Apa sebenarnya Bitcoin Halving itu, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa fenomena ini menjadi kunci utama dari kelangkaan Bitcoin? Mari kita bedah secara mendalam.

Dari sudut pandang uang fiat (seperti Rupiah atau Dolar), Bitcoin Halving adalah suatu kebijakan dalam menerbitkan uang baru yang beredar. Jika uang fiat bisa dicetakoleh Bank Sentral, terus bertambah tanpa ada batasan, halving yang diatur secara matematis dalam protokol bitcoin, justru membuat laju pencetakan Bitcoin semakin melambat.

1. Apa Itu Bitcoin Halving?

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul "Dari Mana Bitcoin Berasal? (Bitcoin Minning Explained)", sudah dijelaskan bahwa penerbitan Bitcoin baru dicetak oleh sistem sebagai imbalan (reward) yang diberikan oleh sistem kepada penambang yang berhasil menebak "kode" tepat untuk memvalidasi catatan blok transaksi.

Sebagaimana dijelaskan dalam White Paper Bitcoin, Satoshi Nakamoto telah merancang protokol bitcoin agar imbalan tersebut berkurang separuhnya setiap 210.000 blok berhasil divalidasi. Dimana tingkat kesulitan telah diatur sedemikian rupa dalam protokol bitcoin, sehingga rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menebak "kode" validasi blok adalah setiap 10 menit sekali. Secara rata-rata pengurangan imbalan tersebut diperkirakan akan terjadi setiap sekitar 4 tahun sekali.

Bitcoin Halving adalah peristiwa ketika di mana imbalan (block reward) yang diterima oleh para penambang (miners) yang berhasil memecahkan “kode” validasi transaksi dipotong setengahnya (50%)

2. Jejak Historis Halving Bitcoin

Untuk memahami dampaknya, mari kita lihat bagaimana jumlah penerbitan Bitcoin baru terus berkurang sepanjang sejarah:

PeristiwaTahunImbalan /BlokPenerbitan BTC/Hari (Estimasi)
Peluncuran (Genesis)200950 BTC7.200 BTC
Halving Pertama201225 BTC3.600 BTC
Halving Kedua201612,5 BTC1.800 BTC
Halving Ketiga20206,25 BTC900 BTC
Halving Keempat20243,125 BTC450 BTC
Halving Berikutnya~20281,5625 BTC225 BTC

Proses pengurangan separuh ini akan terus berlanjut hingga seluruh 21 juta BTC selesai ditambang, yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2140. Setelah tahun tersebut, tidak ada lagi Bitcoin baru yang diterbitkan.

3. Mengapa Halving Membuat Bitcoin Sangat Langka?

Perilaku dalam dalam ekonomi praktis, pada umumnya ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat, produsen akan menambah pasokan untuk memenuhi permintaan tersebut. Jika harga emas naik, perusahaan tambang akan mengebor lebih dalam untuk memproduksi lebih banyak emas.

Bitcoin berbeda secara fundamental. Sebanyak apa pun daya komputasi atau energi yang digunakan penambang di seluruh dunia, kecepatan penerbitan Bitcoin tidak bisa dipercepat. Protokolnya sudah diatur sedemikian rupa sehingga:

  1. Laju Pasokan Terkontrol: Periode penerbitan Bitcoin baru yang masuk ke pasar sudah pasti dan terukur matematis.

  2. Jumlah Penerbitan Menurun: Setiap 4 tahun, keran penerbitan Bitcoin baru dikurangi hingga setengahnya.

Kelangkaan suatu aset sering diukur dengan rasio Stock-to-Flow (S2F), di mana:

  • Stock: Total pasokan aset yang sudah ada saat ini.

  • Flow: Jumlah penerbitan aset baru per tahun.

Semakin tinggi rasio S2F, semakin langka aset tersebut. Sebelum Halving 2024, tingkat inflasi tahunan Bitcoin berada di kisaran ~1,7%. Setelah Halving 2024, tingkat inflasinya turun menjadi ~0,85%—menjadikan laju penerbitan Bitcoin lebih langka daripada emas fisik.

4. Hubungan Halving dengan Hukum Permintaan dan Penawaran

Mengapa harga Bitcoin cenderung mengalami kenaikan signifikan dalam kurun waktu 12–18 bulan setelah Halving? Jawabannya terletak pada hukum dasar ekonomi: Permintaan dan Penawaran (Supply and Demand).

Ketika imbalan penambang dipotong setengahnya, jumlah Bitcoin baru yang siap dijual oleh para penambang di pasar berkurang drastis. Jika tingkat permintaan publik terhadap Bitcoin tetap sama, atau bahkan meningkat, ketidakseimbangan antara pasokan baru yang sedikit dan permintaan yang ada secara alami mendorong harga ke atas.

5. Dampak Halving Bagi Penambang dan Ekosistem

Peristiwa Halving juga membawa tantangan teknis dan ekonomi bagi para pelaku jaringan:

  1. Ujian Efisiensi Penambang: Karena imbalan mereka terpotong 50%, penambang yang menggunakan mesin tua atau energi listrik mahal berisiko mengalami kerugian dan terpaksa gulung tikar. Hanya penambang paling efisien yang sanggup bertahan.

  2. Pergeseran ke Biaya Transaksi (Transaction Fees): Seiring berkurangnya imbalan blok hingga mendekati nol pada masa depan, penambang akan semakin bergantung pada biaya transaksi yang dibayarkan pengguna untuk menjaga keamanan jaringan.

  3. Penyandaran Keamanan Jaringan: Meskipun imbalan BTC berkurang, jika nilai tukar BTC naik seiring waktu, insentif finansial bagi penambang untuk menjaga keamanan jaringan tetap sangat tinggi.

Tidak seperti mata uang fiat (Rupiah, Dolar, Euro) yang pasokannya dapat dicetak tanpa batas oleh bank sentral dan mengikis daya beli Anda dari waktu ke waktu, Bitcoin dirancang dengan mekanisme anti-inflasi (disinflationary).



Share:

Nabung Bitcoin Eps. 008 dan News Update: Coldcard Dibobol Hacker

Nabung Bitcoin Episode 008

Modal (dibulatkan)

Rp. 8.000.000 (100,00%)

Nilai Tabungan Bitcoin

Rp. 7.359.632 (92,00%)


Posisi untung/rugi (+/-)

(-) Rp 615.570

(-) 7,72%


"Bear market" sepertinya masih terus menghantui Bitcoin, di tengah harga yang masih berada pada kisaran 50% di bawah ATH (All Time High) -nya, berita buruk terus menghantui pemegang Bitcoin. Kali ini berita buruk itu datang dari Coldcard, dompet kripto fisik (hardware wallet) khusus Bitcoin yang sangat populer buatan perusahaan Kanada, Coinkite.

Coldcard Dibobol, Hacker Gondol 1.367 Bitcoin Bernilai Triliunan Rupiah

Dompet ini terkenal dengan desain air-gapped yang sangat aman (beroperasi sepenuhnya luring tanpa koneksi USB atau Bluetooth ke komputer), menjadikannya pilihan utama bagi pengguna Bitcoin tingkat lanjut.Namun, saat ini COLDCARD sedang mengalami krisis keamanan besar, di mana peretas berhasil mencuri sekitar $89 juta dalam bentuk Bitcoin (1.367+ BTC) dari lebih dari 4.500 alamat dompet, dimana serangan terjadi pada akhir Juli 2026.

Para peneliti keamanan menemukan adanya kesalahan pengodean (coding error) pada firmware yang berakar sejak Maret 2021, yang merusak sistem pembuat keacakan angka (entropy) pada perangkat.Celah Keamanan: 

  • Perangkat yang terdampak tidak menggunakan generator angka acak perangkat keras yang aman, melainkan beralih ke generator perangkat lunak pseudo-acak yang mudah ditebak saat membuat dompet baru.
  • Dampaknya: Karena keacakannya sangat lemah, peretas dapat menebak dan menyusun kembali kata sandi rahasia (seed phrase) secara luring tanpa perlu memegang fisik perangkat Anda.
  • Perangkat Terdampak: Terutama model Coldcard MK3 yang menjalankan firmware versi 4.0.1 hingga 5.0.3.

Mayoritas dompet yang terdampak adalah single-signature dan telah dormant selama bertahun-tahun.

Coinkite (pembuat Coldcard) telah merilis advisory resmi dan update firmware. Pengguna disarankan segera memeriksa firmware perangkat, memindahkan dana ke seed baru yang dihasilkan di firmware yang telah diperbaiki, serta selalu verifikasi alamat tujuan saat transfer.

Kasus ini mengingatkan kita bahwa tidak ada sistem yang 100% kebal. Bahkan hardware wallet sekalipun memerlukan pemahaman teknis, update rutin, dan praktik keamanan terbaik: gunakan passphrase, buat seed baru di lingkungan offline yang aman, dan diversifikasi penyimpanan aset.

Bagi holder Bitcoin, momen ini menjadi pengingat untuk terus belajar dan tidak menganggap remeh aspek keamanan. Selalu cross-check informasi dari sumber resmi dan lakukan riset mandiri (DYOR).



Share:

Cegah Masalah Double Spending: Bitcoin Tidak Bisa di-Copy-Paste!

Bayangkan Anda mengirim foto lewat WhatsApp ke seorang teman. Setelah tombol send ditekan, foto itu tidak berpindah tempat dan menghilang dari ponsel Anda, melainkan terduplikasi. Teman Anda mendapatkan salinannya, dan Anda masih memegang file aslinya, masing masing mendapatkan foto yang identik.

Kejadian di atas mungkin bukan masalah besar karena itu hanya gambar yang diduplikasi, namun dalam sistim uang digital, duplikasi adalah bencana fatal. Bencana inilah yang dikenal dengan istilah Double Spending, pengeluaran ganda yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Sebelum tahun 2008, belum ada satu pun ilmuwan komputer yang berhasil membuat uang digital murni tanpa bantuan pihak ketiga. Satoshi Nakamoto mengubah sejarah dunia dengan memecahkan masalah ini melalui Bitcoin.


Apa Itu Double Spending?

Double Spending tidak mungkin terjadi bila menggunakan uang fisik (kertas/logam). Jika Anda bertransaksi menggunakan uang tunai fisik, misalnya dengan selembar uang Rp100.000 :

  • Anda memberikan uang itu ke penjual kopi.
  • Uang tersebut berpindah tangan secara fisik.
  • Anda tidak bisa lagi membelanjakan Rp100.000 yang sama ke toko kelontong di sebelah.

Namun pada sistem digital tanpa fisik, token uang hanyalah berupa susunan kode atau data yang mudah di-copy-paste secara identik. Double Spending adalah kondisi di mana satu unit uang digital yang sama digunakan untuk dua transaksi berbeda dalam waktu bersamaan. Tanpa pengawasan, seseorang bisa membagikan kode yang sama ke Penjual A dan Penjual B sebelum sistem sempat memperbaruinya.

       ┌───> Mengirim Token "X" ───> Penjual A

Pengguna

       └───> Mengirim Token "X" ───> Penjual B

Selain itu, Double Spending juga bisa terjadi ketika proses penyelesaian akhir suatu transaksi keuangan (settlement) belum final, atau sistem belum sempat memperbaharui status transaksi.

Oleh karena itu sistem keuangan konvensional membutuhkan pihak yang bertindak untuk melakukan pengawasan khusus. Menghadirkan Perantara Terpusat (centralized third party), seperti bank, Visa, atau PayPal. Setiap kali Anda mengirim uang lewat aplikasi bank:

  1. Bank memeriksa saldo di server mereka.
  2. Jika saldo cukup, bank memotong angka di akun Anda dan menambahkannya ke akun penerima.
  3. Seluruh kebenaran transaksi dipegang penuh oleh basis data tunggal milik bank.

Sistem ini bekerja dengan baik, tetapi memiliki kelemahan mendasar: Anda harus percaya penuh bergantung pada pihak ketiga. Pihak terpusat ini berpotensi menjadi titik kegagalan tunggal (single point of failure), rawan peretasan, membutuhkan biaya transaksi tinggi, serta bisa membekukan atau membatasi transaksi Anda kapan saja.


Cara Bitcoin Memecahkan Double Spending Tanpa Bank

Satoshi Nakamoto merancang jaringan yang memungkinkan ribuan komputer independen di seluruh dunia menyepakati satu buku catatan (ledger) yang sama tanpa bergantung pada satu pihak.

Bitcoin memecahkan double spending melalui kombinasi tiga mekanisme utama:

1. Buku Catatan Publik Terdistribusi (Blockchain)

Setiap transaksi Bitcoin disiarkan ke seluruh jaringan komputer (node). Tidak ada satu server pun yang menyimpan data sendirian. Semua orang (node) memegang salinan riwayat transaksi yang sama sejak blok pertama diterbitkan pada tahun 2009.

2. Stempel Waktu (Timestamping) & Pengelompokan Blok

Transaksi tidak diproses satu per satu secara acak. Transaksi dikelompokkan ke dalam sebuah Blok dan diberi stempel waktu yang terikat secara kriptografi. Blok ini dihubungkan secara berurutan membentuk rantai (Blockchain). Jika seseorang mencoba membelanjakan Bitcoin yang sama dua kali, jaringan hanya akan menerima transaksi yang stempel waktunya terkonfirmasi lebih dulu dalam rantai.

3. Konsensus Proof of Work (PoW)

Di sinilah letak kejeniusan teknis Bitcoin. Untuk menambahkan blok baru ke dalam blockchain, para miner (penambang) harus mengorbankan energi listrik dan daya komputasi untuk menyelesaikan teka-teki matematika rumit. Proses ini memastikan bahwa meretas atau mengubah riwayat transaksi menjadi hal yang sulit, dan membutuhkan biaya finansial yang jauh sangat besar dan dilayak untuk dilakukan.


Aturan Rantai Terpanjang (Longest Chain Rule):

Jika ada dua versi transaksi yang beredar secara bersamaan karena jeda waktu sinyal, jaringan secara otomatis akan memilih rantai blok dengan total pekerjaan komputasi (proof of work) terbanyak sebagai kebenaran mutlak.


Mengapa Inovasi Ini Sangat Krusial?

Dengan terpecahkannya masalah double spending tanpa perantara, Bitcoin berhasil menciptakan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil yaitu transaksi digital tanpa bergantung kepada pihak terpusat. Bahwa perpindahan nilai dari satu pihak kepihak lainnya (transaksi) secara digital menggunakan Bitcoin dapat diyakini validitasnya.

Sebelum adanya Bitcoin, segala sesuatu yang bersifat digital bisa dicopy-paste tanpa batas. Bitcoin membuktikan bahwa kita dapat memiliki aset digital yang tidak bisa dipalsukan, tidak bisa digandakan, dan bisa dikirim secara valid ke mana saja di seluruh dunia tanpa izin siapapun, dan tidak ada yang bisa menghambatnya.

Terpecahkannya masalah double spending bukan sekadar inovasi teknologi finansial biasa, ini adalah tonggak sejarah ilmu komputer yang mengubah cara manusia mendefinisikan kepemilikan dan nilai di era digital.

Share:

Nabung Bitcoin Eps. 007 dan News Update Juli 2026

Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di atas $126.200 (~ 2,07 miliar rupiah) pada akhir Oktober 2025, Bitcoin membuka paruh kedua tahun 2026 di kisaran $58.494. Penurunan kumulatif lebih dari 53% dari puncak tertingginya. Dengan harga Bitcoin turun hingga 1,2 miliar, tabungan Bitcoin saya pun lanjut mengalami floating loss yang lebih banyak lagi. Secara perhitungan fiat kerugian saya sudah mencapai lebih dari 700 ribu rupiah (lebih dari 10%) dari total tabungan ~ 7 juta rupiah. 

Karena saya sudah komitent untuk terus nabung Bitcoin 1 juta setiap bulan, ya sudah diterima saja kondisi tersebut. Selanjutnya berikut ini disampaikan highlight peristiwa-peristiwa terkait Bitcoin, yang terjadi di bulan Juni 2026:

1. Coinbase Mengungkap Komitmen Lebih dari 40 Negara untuk Mengakuisisi Bitcoin ke Neraca Negara

Kepala Strategi Institusional Coinbase, John D’Agostino dalam wawancaranya dengan CNBC, membuat kejutan besar pada akhir Juni 2026 dengan mengungkapkan bahwa lebih dari 40 negara telah menyatakan komitmen atau ketertarikan kuat untuk membeli Bitcoin sebagai aset cadangan negara. Tren ini merupakan kelanjutan dari efek domino pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis oleh AS pada tahun 2025. Kendati demikian, baru 13 pemerintahan yang kepemilikannya terverifikasi secara publik dengan total nilai mencapai $37,9 miliar.

2. Perubahan Haluan MSTR: Program Monetisasi (penjualan) BTC $1,25 Miliar

Langkah ini mengejutkan dan mematahkan narasi ikonik "Never Sell" (Tidak Akan Pernah Menjual) yang selama ini digaungkan oleh Executive Chairman Microstategy, Michael Saylor.

Bukan sekadar penjualan sekali saja, pada 29 Juni 2026, Strategy Inc. secara resmi mengumumkan peta jalan keuangan baru yang disebut Digital Credit Capital Framework. Di bawah kebijakan baru ini, MSTR menyetujui program Monetisasi Bitcoin senilai hingga $1,25 miliar. Artinya, perusahaan secara resmi beralih dari strategi pure buy-and-hold (hanya membeli dan menyimpan) menjadi strategi dinamis yang mengizinkan penjualan Bitcoin secara berkala.


Share:

Dari Mana Bitcoin Berasal? (Bitcoin Minning Explained)

Siapa yang menerbitkan Bitcoin? Jika uang Rupiah diterbitkan oleh Bank Indonesia dan Dollar diterbitkan oleh Federal Reserve di Amerika Serikat, maka jawabannya untuk Bitcoin cukup mengejutkan: Tidak ada satu pun lembaga, bank, atau pemerintah yang menerbitkannya.

Lalu, dari mana Bitcoin baru itu berasal? Di sinilah peran penting dari proses yang disebut Bitcoin Mining (Penambangan Bitcoin). Mari kita bedah cara kerja Bitcoin mining dengan analogi yang sederhana.


Memahami Cara Kerja Bitcoin

Sebelum memahami mining kita harus paham dulu cara kerjanya. Analoginya bitcoin  adalah Buku Besar Digital Bersama, suatu catatan pembukuan akutansi digital yang disalin oleh semua anggota yang tersebar dalam suatu komunitas (jaringan).

Jika Anda mentransfer uang ke teman via bank, bank akan mencatat transaksi itu di buku besar mereka. Bitcoin melakukan hal yang sama, tetapi bukunya tidak dimiliki oleh satu bank. Buku besar Bitcoin (disebut blockchain) terbuka dan didistribusikan ke ribuan komputer komunitas di seluruh dunia, menjadikannya sangat sulit untuk dimanipulasi.

Analogi Sederhana: Lomba Tebak Kode

Transaksi bitcoin dikelompokkan dalam satuan halam transaksi yang disebut "blok" yang kemudian saling berkaitan secara kronologis, itu sebabnya disebut dengan nama blockchain. Karena tidak ada bank yang bertugas mencatat, tugas ini diserahkan kepada para penambang (miners), yaitu orang-orang di seluruh dunia yang secara sukarela menghubungkan komputer mereka ke jaringan Bitcoin.

Proses mencatat dengan menambahkan blok baru ini disebut mining (penambangan). Namun menambahkan blok ini tidak bisa begitu saja dilakukan, syaratnya komputer-komputer khusus tersebut harus bersaing, berlomba untuk menebak "kode" dan sebagai imbalannya, bagi yang berhasil menebak "kode" mendapatkan hadiah bitcoin baru dan/atau fee, yang secara digital dicatatkan ke dalam dompet mereka.

Gamabaran prosesnya mirip seperti ini:

  1. Penambang mengumpulkan data transaksi terbaru dari orang-orang yang saling mengirim Bitcoin.
  2. Agar halaman transaksi (block) tersebut disahkan (valid) dan terkunci, para miner dengan kemampuan komputernya harus berlomba menebak "kode" yang tepat.
  3. Siapa pun yang paling cepat menebak kode tersebut, dialah pemenangnya, dan imbalannya, sistem secara otomatis menerbitkan Bitcoin baru dan/atau fee sebagai hadiah untuk si penambang.

Jadi, menambang Bitcoin itu bukan menggali tanah dengan sekop, melainkan mengerahkan daya komputasi komputer untuk mengamankan jaringan, dan imbalannya adalah Bitcoin.

Kenapa Disebut "Menambang"?

Istilah ini digunakan karena secara filosofi prosesnya sangat mirip dengan menambang di dunia nyata:

  • Butuh Usaha & Modal: Menambang emas butuh alat berat dan tenaga kerja. Menambang Bitcoin butuh komputer super canggih dan listrik yang besar.
  • Yang ditambang adalah barang yang memiliki nilai: Emas di bumi sangat berharga diakui bernilai tinggi. Begitu juga Bitcoin, meski pada awalnya belum banyak yang mengakui (mungkin karena belum memahami), saat ini bitcoin terbukti bernilai sangat tinggi.
  • Semakin Lama Semakin Sulit: Semakin banyak orang yang ikut menambang, sistem Bitcoin secara otomatis akan membuat "kode" yang semakin sulit untuk dipecahkan.

Dulu, di awal kemunculannya, Anda bisa menambang Bitcoin hanya dengan laptop biasa di rumah. Namun sekarang, kompetisinya sudah sangat ketat. Para penambang profesional saat ini menggunakan:

  • ASIC Miner: Komputer khusus yang dirancang hanya untuk satu tugas: menebak kode Bitcoin secepat mungkin. Komputer ini tidak bisa digunakan untuk main game atau mengetik.
  • Listrik yang Besar: Komputer-komputer ini bekerja 24 jam non-stop dan menghasilkan panas yang luar biasa, sehingga membutuhkan sistem pendingin raksasa.
  • Mining Pool: Karena bersaing sendirian sangat sulit, para penambang kecil biasanya bergabung dalam sebuah kelompok (pool) untuk menyatukan kekuatan komputer mereka dan berbagi hasilnya bersama-sama.

Berapa hadiah menambang bitcoin?

Hadiah yang diterima oleh penambang Bitcoin terdiri dari dua komponen: Bitcoin baru dan biaya transaksi (fee).

Bitcoin baru adalah hadiah utama yang dicetak langsung oleh sistem. Bitcoin dirancang agar pasokannya terbatas/langka yaitu dengan cara memberikan jumlah hadiah berkurang setengahnya setiap 4 tahun sekali melalui peristiwa yang disebut Bitcoin Halving. Jika di awal peluncuran miner mendapat 50 BTC per blok, saat ini hadiah sudah menurun, terjadi halving sebanyak empat kali menjadi 3,125 per blok. 

Berikut adalah perubahan jumlah hadiahnya dari waktu ke waktu:  

  • 2009 – 2012: 50 BTC per blok
  • 2012 – 2016: 25 BTC per blok
  • 2016 – 2020: 12,5 BTC per blok
  • 2020 – 2024: 6,25 BTC per blok
  • 2024 – 2028 (Sekarang): 3,125 BTC per blok
  • Prediksi April 2028 (Halving berikutnya): Hadiah akan turun lagi menjadi 1,5625 BTC.

Selain mendapatkan Bitcoin baru, penambang juga berhak mengambil seluruh biaya transaksi yang dibayarkan oleh pengguna yang mengirim Bitcoin di dalam blok tersebut. Berbeda dengan subsidi blok yang jumlahnya pasti, biaya transaksi ini selalu berubah-ubah tergantung seberapa sibuk jaringan Bitcoin saat itu.  Jika banyak orang yang sedang mengantre untuk mengirim Bitcoin, mereka akan saling mendongkrak biaya transaksi agar transferan mereka diprioritaskan oleh penambang.


Kembali ke pertanyaan awal: siapa yang menerbitkan Bitcoin? Jawabannya adalah sistem kode pemrograman Bitcoin itu sendiri, yang diberikan sebagai hadiah kepada para penambang yang jujur.

Jadi, Bitcoin mining adalah proses ganda. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai sistem keamanan untuk memastikan tidak ada transaksi palsu. Di sisi lain, ia berfungsi sebagai mesin cetak otomatis yang merilis Bitcoin baru ke dunia tanpa perlu campur tangan bank sentral.

Share:
Bitcoin Logo Bitcoin (BTC)
Sedang memuat...
Harga IDR Real-time via CoinGecko

Recent Posts

Popular Post

Support Us

Support Us
Donate Sats or BTC through LN disclaimer@walletofsatoshi.com

Disclaimer #EdukasiBitcoin

Informasi yang disampaikan dalam blog ini bukan rekomendasi keuangan atau investasi. Kami sarankan kepada Anda untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.