Sharing Informasi & Opini Tentang Bitcoin

Nabung Bitcoin Eps. 004 dan Highligt Bitcoin Bulan Maret 2026

Di awal bulan April 2026 ini kami lanjutkan nabung Bitcoin Episode 4. Kondisi harga bitcoin saat ini masih dikisaran 1,1 - 1,2 miliar. Nilai tabungan Bitcoin saya pun masih turun alias rugi jika diukur dengan rupiah. Di bulan keempat ini dari modal yang telah dimasukan terakhir senilai ~empat juta rupiah nilai menjadi menjadi ~tiga juta enam ratus ribuan dalam rupiah.

Pada kesempatan ini juga kami sampaikan highlight terkait Bitcoin yang terjadi satu bulan terakhir sebagai berikut:


1. Penutupan Bulanan Bositif, Setelah Mengalami Tren Negatif Lima Bulan

Setelah mengalami tekanan jual sejak akhir tahun 2025, Bitcoin akhirnya mencatatkan penutupan bulanan yang positif pada Maret 2026. Meskipun kenaikannya relatif tipis, yaitu sekitar 1,8% hingga 2%, pencapaian ini dianggap sebagai sinyal penting bagi perubahan struktur pasar (market structure).

Selama bulan tersebut, harga bergerak sangat volatil dengan titik tertinggi sempat menyentuh kisaran $76.000 di pertengahan bulan sebelum akhirnya terkoreksi kembali dan menetap di area $67.000 - $69.000 menjelang penutupan bulan. Para analis melihat ini sebagai fase konsolidasi yang sehat setelah periode "rapor merah" di awal kuartal pertama.


2. Klarifikasi Regulasi SEC: Bitcoin sebagai Komoditas

SEC (OJK-nya Amerika) pada 17 Maret 2026 mengeluarkan interpretasi resmi yang memberikan kejelasan hukum lebih lanjut bagi industri kripto. Dalam pengumuman tersebut, Bitcoin (bersama dengan Ether dan beberapa aset lainnya) secara tegas dikategorikan sebagai komoditas digital, bukan sekuritas.

Langkah mengurangi ketidakpastian regulasi yang selama ini menghantui investor institusi di Amerika Serikat. Dengan adanya garis tegas antara yurisdiksi SEC dan CFTC, hambatan adopsi massal dan pengembangan produk investasi berbasis Bitcoin menjadi berkurang.


3. Strategi Akumulasi Agresif Michael Saylor

Di tengah fluktuasi pasar, MicroStrategy yang dipimpin oleh Michael Saylor terus melanjutkan aksi beli besarnya. Pada pertengahan Maret, perusahaan ini kembali memborong sekitar 22.337 BTC senilai kurang lebih US$1,57 miliar (setara Rp24,5 triliun).

Aksi ini menandai pembelian mingguan ke-12 berturut-turut oleh MicroStrategy di tahun 2026, mempertegas komitmen mereka untuk mencapai target kepemilikan 1 juta BTC pada akhir tahun. Langkah institusional ini memberikan sentimen positif dan menjadi "bantalan" harga ketika terjadi aksi jual oleh para investor besar (whales) lainnya akibat sentimen makro.


4. Ketahanan Bitcoin Terhadap Ketegangan Geopolitik

Pasar kripto di bulan Maret sangat dipengaruhi oleh berita perang dan ketegangan di Timur Tengah (AS-Iran) yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Meskipun aset berisiko umumnya melemah, Bitcoin menunjukkan karakteristik sebagai safe-haven digital dengan tidak anjlok sedalam pasar saham global (S&P 500). Meskipun sempat terjadi likuidasi besar-besaran senilai ratusan juta dolar akibat kepanikan pasar, Bitcoin berhasil pulih dengan cepat.


5. 95% Suplai Bitcoin Telah Berhasil Ditambang

Tepat pada tanggal 9 Maret 2026, jaringan Bitcoin berhasil menambang koin ke-20 juta. Dengan pencapaian ini, sekitar 95,2% dari total pasokan maksimum Bitcoin kini telah beredar. Peristiwa ini terjadi sekitar 17 tahun sejak blok pertama (Genesis Block) ditambang oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009.

Meskipun butuh 17 tahun untuk menambang 20 juta koin, sistem halving yang tertanam dalam kode Bitcoin memastikan bahwa sisa 1 juta koin terakhir akan selesai ditambang dalam waktu yang lama, yaitu sekitar 114 tahun ke depan (diperkirakan tuntas pada tahun 2140). Hal ini menjadi pengingat mengenai kelangkaan Bitcoin  di tengah sistem ekonomi global saat ini.

Share:

Hati-Hati! Kepemilikan USDC/USDT Bisa Dibekukan!


Banyak investor kripto pemula merasa bahwa selama mereka menyimpan aset di dompet pribadi (Cold Wallet atau Hot Wallet), maka aset tersebut sudah 100% aman dan tidak bisa disentuh oleh siapa pun. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu terutama jika Anda menyimpan kripto yang diterbitkan oleh perusahaan terpusat seperti Stablecoin USDT (Tether) atau USDC (Circle).

Baru-baru ini, jagat kripto dihebohkan dengan berita pembekuan dana senilai $2,49 juta (sekitar Rp39 miliar) milik bursa kripto asal Iran, Wallex, oleh Circle dan Tether. Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang risiko sentralisasi.

Berbeda dengan Bitcoin yang berjalan secara otomatis tanpa pemilik tunggal, USDT dan USDC adalah aset yang diterbitkan oleh perusahaan swasta. Di dalam kode program mereka (Smart Contract), terdapat fitur yang sering disebut sebagai "The Kill Switch" atau tombol darurat.

Bagaimana cara kerjanya?

  • Blacklisting: Perusahaan penerbit (Tether atau Circle) memiliki daftar hitam alamat dompet.
  • Kontrol di Level Kontrak: Meskipun koin tersebut ada di dalam dompet Cold Wallet atau Hot Wallet seperti Ledger atau MetaMask, setiap kali koin tersebut ingin dipindahkan, sistem akan mengecek ke "pusat". Jika alamat Anda ada di daftar hitam, transaksi akan otomatis gagal.
  • Kepatuhan Hukum: Mereka melakukan ini biasanya untuk mematuhi sanksi internasional, permintaan penegak hukum (seperti FBI), atau jika dana tersebut terdeteksi hasil peretasan.

Kasus yang baru-baru terjadi terhadap Wallex Sebuah bursa (tempat jual-beli) kripto yang berbasis di Iran. Ini adalah simbol nyata dari sanksi ekonomi. Karena Iran berada di bawah sanksi internasional, perusahaan Amerika seperti Circle (USDC) dan Tether (USDT) wajib mematuhi perintah memutus akses bagi entitas yang berasal dari sana.

Ini bukan kasus pertama! Dan bisa dapat diperkirakan (bahkan mungkin dipastikan) bahwa ini bukan kasus terakhir! Karena "feature" membekukan itu "ada" di tangan perusahaan penerbitnya.

Hal ini menjadi peringatan bahwa kepemilikan kunci pribadi (Private Key) tidak menjamin aset Anda tidak bisa dibekukan jika aset tersebut adalah token yang dikendalikan secara terpusat. Uangnya masih ada di sana, tapi "nyangkut" tidak bisa dipakai.
Share:

Apakah Bitcoin Merupakan Ponzi Scheme atau Penipuan?


Pertanyaan apakah Bitcoin merupakan skema Ponzi atau penipuan sering muncul karena karakteristik teknis dan pergerakan harga Bitcoin yang saat imi masih sangat volatil.

Sebuah skema Ponzi (diambil dari nama Charles Ponzi) memiliki ciri khas di mana keuntungan investor lama dibayar menggunakan dana dari investor baru, biasanya dikelola oleh satu entitas pusat yang menjanjikan imbal hasil tetap.

Ada beberapa alasan mengapa persepsi negatif Bitcoin muncul di masyarakat:

  1. Volatilitas Harga: Fluktuasi harga yang tajam membuat banyak orang merasa terjebak jika membeli di harga puncak, meskipun ini adalah dinamika pasar aset spekulatif pada umumnya.
  2. Kurangnya Pemahaman Teknis: Konsep uang digital tanpa wujud fisik dan tanpa dukungan bank sentral seringkali sulit diterima oleh logika keuangan tradisional.
  3. Penyalahgunaan oleh Pihak Ketiga: Banyak penipuan yang mengatasnamakan Bitcoin (seperti investasi bodong atau phishing), padahal Bitcoin itu sendiri hanyalah protokol teknis, sama seperti protokol email atau internet.
Untuk memahaminya secara objektif, kita perlu membedah struktur teknis protokol Bitcoin dibandingkan dengan ciri-ciri karakter dari skema Ponzi.

KarakteristikSkema PonziBitcoin
Otoritas PusatAda pengelola pusat yang mengendalikan dana.Desentralisasi; tidak ada pemilik atau pengelola tunggal.
TransparansiLaporan keuangan seringkali palsu atau rahasia.Open-source; semua transaksi tercatat di Blockchain yang bisa diverifikasi siapa saja.
Janji KeuntunganMenjanjikan keuntungan tetap dengan risiko rendah.Tidak ada janji keuntungan; harga ditentukan murni oleh pasar (permintaan & penawaran).
Sumber DanaHanya dari setoran anggota baru.Memiliki utilitas sebagai jaringan pembayaran global dan penyimpan nilai (store of value).
Secara teknis dan struktural, Bitcoin bukan merupakan skema Ponzi. Namun, sebagai aset yang relatif baru, ia membawa risiko pasar yang tinggi. Keamanan investasi dalam ekosistem ini sangat bergantung pada pemahaman individu mengenai cara kerja protokol Bitcoin, di tengah pergerakan harga yang masih sangan volatil saat ini.

Pemilihan platform pertukaran (exchange) yang legal dan memiliki reputasi bagus juga harus menjadi pertimbangan, karena pengalaman pernah menunjukan bahwa ada platform yang gagal menjaga aset para anggotanya.

Secara fundamental, Bitcoin lebih mirip dengan komoditas. Kelangkaannya (hanya akan ada 21 juta unit) dan daya tahannya terhadap sensor menjadikannya aset yang memiliki nilai bagi penggunanya. Seiring dengan adopsi yang semakin luas, bahkan mulai diadopsi oleh institusi keuangan besar dan beberapa negara, stigma sebagai penipuan perlahan bergeser menjadi pembahasan mengenai aset kelas baru.


Share:

Gak Cuma Rupiah, Nilai Tukar Dollar Pun Ternyata Menyusut!

 Bayangkan uang satu dolar AS sebagai seorang pengelana waktu. Kita memahami bahwa uang adalah alat tukar, tapi jarang kita bahas bahwa "kekuatan" uang itu bisa menyusut. Fenomena ini disebut penurunan daya beli.

Dahulu kala, pada awal tahun 1900-an, uang satu dolar ($1) adalah pecahan uang yang sangat berharga. Saat itu nilainya masih dijamin oleh emas murni di bank. Saat itu, jumlah uang yang beredar dijaga agar tidak berlebihan, sehingga harga barang-barang tetap murah dan stabil bagi masyarakat. Bayangkan saja, hanya dengan selembar uang  $1 kamu bisa membawa pulang 30 batang cokelat Hershey yang legendaris di Amerika untuk keluarga atau teman-teman main kamu.

Namun, seiring berjalannya waktu, aturan berubah dan pemerintah mulai mencetak lebih banyak uang, terutama saat menghadapi krisis ekonomi atau perang. Puncaknya pada tahun 1971, setelah Presiden Richard Nixon memutuskan bahwa dolar tidak lagi bisa ditukar dengan emas. Akibatnya, nilai satu dolar mulai "menyusut" atau melemah. Fenomena ini disebut inflasi, di mana jumlah uang yang beredar semakin banyak, tetapi kekuatan uang tersebut untuk membeli barang justru semakin kecil.

Di masa modern sekarang, si dolar yang dulu bisa membeli puluhan cokelat kini "kelelahan" dan hanya cukup untuk membeli secangkir kopi. Agar lebih mudah lagi untuk membayangkan sejauh apa penurunan nilai Dollar, kalau saat ini uang $1 tidak cukup untuk dibelikan satu batang coklat Hersley, karena harganya berada pada kisaran $1,8 s.d. $4,8 per batangnya.

Grafik yang menurun tajam dalam gambar tersebut menunjukkan bahwa meskipun angka di uangnya tetap sama, nilainya di mata barang-barang terus merosot. Ini adalah pengingat bahwa harga barang yang naik bukan berarti barangnya jadi lebih mewah, melainkan nilai uang kita yang daya belinya sedang menurun.

Share:

Kenapa Harga Barang Selalu Naik? Apa itu Inflasi?

Pernah gak kamu mau beli jajanan favorit di warung, tapi tiba-tiba harganya naik? Padahal bulan lalu harganya masih Rp800, eh sekarang sudah jadi Rp1.000. Nah, kejadian naiknya harga barang-barang secara terus-menerus itulah yang disebut dengan Inflasi. Supaya lebih jelas, yuk kita bahas pelan-pelan!



Apa Itu Inflasi?

Bayangkan kamu punya "Kekuatan Super" berupa uang Rp10.000. Dulu, mungkin dengan uang itu kamu bisa dapet 5 bungkus wafer coklat. Tapi karena ada inflasi, sekarang uang Rp10.000 cuma bisa buat beli 3 bungkus saja. Atau mungkin sekarang masih bisa beli 5 bungkus wafer coklat, tapi setelah diperhatikan tenyata ukurannya lebih kecil dari pada beberapa waktu lalu.

Jadi, inflasi itu bukan cuma tentang harga yang naik, tapi tentang nilai uang kita yang "menciut". Uangnya sama, tapi barang yang didapat jadi lebih sedikit.


Kenapa Inflasi Bisa Terjadi?

Ada beberapa alasan kenapa harga-harga di pasar atau mal bisa naik:

  • Banyak yang Mau Beli (Rebutan): Kalau semua anak di sekolah mau beli mainan yang sama tapi stoknya cuma sedikit, penjual biasanya akan menaikkan harganya, karena pedagangnya yakin pasti ada yang mau beli dengan harga tersebut.
  • Biaya Bikin Barang Lebih Mahal: Misalnya, harga bensin naik. Karena mobil pengantar kerupuk butuh bensin, akhirnya harga kerupuknya ikut naik supaya penjualnya tidak rugi.
  • Jumlah Uang yang Beredar: Kalau tiba-tiba semua orang punya uang terlalu banyak, harga barang juga akan cenderung naik karena orang-orang jadi lebih berani belanja. Dan pada kenyataannya jumlah uang itu terus bertambah. (Kalau mau tahu gimana uang diciptakan silakan baca : Mengungkap Misteri Bagaimana Uang Diterbitkan)

Bagaimana? Sekarang sudah paham kan, kenapa harga bakso atau mie ayam langgananmu bisa naik?


Apakah Inflasi Itu Jahat?

Dalam ilmu ekonomi, sering dinyatakan, inflasi itu ibarat bumbu garam dalam masakan, kalau dikit: bagus, karena artinya ekonomi sedang berjalan orang-orang semangat jualan. Tapi kalau inflasinya kebanyakan, "bisa gawat!" Orang-orang jadi susah beli kebutuhan karena harganya kemahalan.

Tapi coba pikir-pikir lagi, berapa inflasi yang kecil itu? Lalu jika kamu menyimpan uang, apakah kamu rela nilai uangnya turun 2% setiap tahun? Berapa nilai uang dalam 5 tahun? 10 tahun? Bagaimana juga kalau inflasi sampai 5% per tahun.

Jadi, inflasi itu seperti "arus sungai" yang terus bergerak. Kita tidak bisa melawannya, tapi kita bisa belajar berenang dengan bijak agar tidak hanyut!

Karena ada inflasi, menabung saja kadang tidak cukup karena nilai uangnya bisa turun di masa depan, belum lagi ada potongan admin bank. Makanya, penting untuk belajar cara menyimpan (nilai) uang!



Share:

Recent Posts

Popular Post

Support Us

Support Us
Donate Sats or BTC through Lightning

Disclaimer

Informasi yang disampaikan dalam blog ini bukan rekomendasi keuangan atau investasi. Kami sarankan kepada Anda untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.