Sharing Informasi & Opini Tentang Bitcoin
Don't Trust, Verify #Disclaimer is always ON
Bukan Rekomendasi Investasi/Keuangan #DYOR

Cegah Masalah Double Spending: Bitcoin Tidak Bisa di-Copy-Paste!

Bayangkan Anda mengirim foto lewat WhatsApp ke seorang teman. Setelah tombol send ditekan, foto itu tidak berpindah tempat dan menghilang dari ponsel Anda, melainkan terduplikasi. Teman Anda mendapatkan salinannya, dan Anda masih memegang file aslinya, masing masing mendapatkan foto yang identik.

Kejadian di atas mungkin bukan masalah besar karena itu hanya gambar yang diduplikasi, namun dalam sistim uang digital, duplikasi adalah bencana fatal. Bencana inilah yang dikenal dengan istilah Double Spending, pengeluaran ganda yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Sebelum tahun 2008, belum ada satu pun ilmuwan komputer yang berhasil membuat uang digital murni tanpa bantuan pihak ketiga. Satoshi Nakamoto mengubah sejarah dunia dengan memecahkan masalah ini melalui Bitcoin.


Apa Itu Double Spending?

Double Spending tidak mungkin terjadi bila menggunakan uang fisik (kertas/logam). Jika Anda bertransaksi menggunakan uang tunai fisik, misalnya dengan selembar uang Rp100.000 :

  • Anda memberikan uang itu ke penjual kopi.
  • Uang tersebut berpindah tangan secara fisik.
  • Anda tidak bisa lagi membelanjakan Rp100.000 yang sama ke toko kelontong di sebelah.

Namun pada sistem digital tanpa fisik, token uang hanyalah berupa susunan kode atau data yang mudah di-copy-paste secara idenetik. Double Spending adalah kondisi di mana satu unit uang digital yang sama digunakan untuk dua transaksi berbeda dalam waktu bersamaan. Tanpa pengawasan, seseorang bisa membagikan kode yang sama ke Penjual A dan Penjual B sebelum sistem sempat memperbaruinya.

       ┌───> Mengirim Token "X" ───> Penjual A

Pengguna

       └───> Mengirim Token "X" ───> Penjual B

Selain itu, Double Spending juga bisa terjadi ketika proses penyelesaian akhir suatu transaksi keuangan (settlement) belum final, atau sistem belum sempat memperbaharui status transaksi.

Oleh karena itu sistem keuangan konvensional membutuhkan pihak yang bertindak untuk melakukan pengawasan khusus. Menghadirkan Perantara Terpusat (centralized third party), seperti bank, Visa, atau PayPal. Setiap kali Anda mengirim uang lewat aplikasi bank:

  1. Bank memeriksa saldo di server mereka.
  2. Jika saldo cukup, bank memotong angka di akun Anda dan menambahkannya ke akun penerima.
  3. Seluruh kebenaran transaksi dipegang penuh oleh basis data tunggal milik bank.

Sistem ini bekerja dengan baik, tetapi memiliki kelemahan mendasar: Anda harus percaya penuh pada pihak ketiga. Pihak terpusat ini berpotensi menjadi titik kegagalan tunggal (single point of failure), rawan peretasan, membutuhkan biaya transaksi tinggi, serta bisa membekukan atau membatasi transaksi Anda kapan saja.


Cara Bitcoin Memecahkan Double Spending Tanpa Bank

Satoshi Nakamoto merancang jaringan yang memungkinkan ribuan komputer independen di seluruh dunia menyepakati satu buku catatan (ledger) yang sama tanpa bergantung pada satu pihak.

Bitcoin memecahkan double spending melalui kombinasi tiga mekanisme utama:

1. Buku Catatan Publik Terdistribusi (Blockchain)

Setiap transaksi Bitcoin disiarkan ke seluruh jaringan komputer (node). Tidak ada satu server pun yang menyimpan data sendirian. Semua orang (node) memegang salinan riwayat transaksi yang sama sejak blok pertama diterbitkan pada tahun 2009.

2. Stempel Waktu (Timestamping) & Pengelompokan Blok

Transaksi tidak diproses satu per satu secara acak. Transaksi dikelompokkan ke dalam sebuah Blok dan diberi stempel waktu yang terikat secara kriptografi. Blok ini dihubungkan secara berurutan membentuk rantai (Blockchain). Jika seseorang mencoba membelanjakan Bitcoin yang sama dua kali, jaringan hanya akan menerima transaksi yang stempel waktunya terkonfirmasi lebih dulu dalam rantai.

3. Konsensus Proof of Work (PoW)

Di sinilah letak kejeniusan teknis Bitcoin. Untuk menambahkan blok baru ke dalam blockchain, para miner (penambang) harus mengorbankan energi listrik dan daya komputasi untuk menyelesaikan teka-teki matematika rumit. Proses ini memastikan bahwa meretas atau mengubah riwayat transaksi menjadi hal yang sulit, dan membutuhkan biaya finansial yang jauh sangat besar dan dilayak untuk dilakukan.


Aturan Rantai Terpanjang (Longest Chain Rule):

Jika ada dua versi transaksi yang beredar secara bersamaan karena jeda waktu sinyal, jaringan secara otomatis akan memilih rantai blok dengan total pekerjaan komputasi (proof of work) terbanyak sebagai kebenaran mutlak.


Mengapa Inovasi Ini Sangat Krusial?

Dengan terpecahkannya masalah double spending tanpa perantara, Bitcoin berhasil menciptakan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil yaitu transaksi digital tanpa bergantung kepada pihak terpusat. Bahwa perpindahan nilai dari satu pihak kepihak lainnya (transaksi) secara digital menggunakan Bitcoin dapat diyakini validitasnya.

Sebelum adanya Bitcoin, segala sesuatu yang bersifat digital bisa dicopy-paste tanpa batas. Bitcoin membuktikan bahwa kita dapat memiliki aset digital yang tidak bisa dipalsukan, tidak bisa digandakan, dan bisa dikirim secara valid ke mana saja di seluruh dunia tanpa izin siapapun, dan tidak ada yang bisa menghambatnya.

Terpecahkannya masalah double spending bukan sekadar inovasi teknologi finansial biasa, ini adalah tonggak sejarah ilmu komputer yang mengubah cara manusia mendefinisikan kepemilikan dan nilai di era digital.

Share:

Nabung Bitcoin Eps. 007 dan News Update Juli 2026

Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di atas $126.200 (~ 2,07 miliar rupiah) pada akhir Oktober 2025, Bitcoin membuka paruh kedua tahun 2026 di kisaran $58.494. Penurunan kumulatif lebih dari 53% dari puncak tertingginya. Dengan harga Bitcoin turun hingga 1,2 miliar, tabungan Bitcoin saya pun lanjut mengalami floating loss yang lebih banyak lagi. Secara perhitungan fiat kerugian saya sudah mencapai lebih dari 700 ribu rupiah (lebih dari 10%) dari total tabungan ~ 7 juta rupiah. 

Karena saya sudah komitent untuk terus nabung Bitcoin 1 juta setiap bulan, ya sudah diterima saja kondisi tersebut. Selanjutnya berikut ini disampaikan highlight peristiwa-peristiwa terkait Bitcoin, yang terjadi di bulan Juni 2026:

1. Coinbase Mengungkap Komitmen Lebih dari 40 Negara untuk Mengakuisisi Bitcoin ke Neraca Negara

Kepala Strategi Institusional Coinbase, John D’Agostino dalam wawancaranya dengan CNBC, membuat kejutan besar pada akhir Juni 2026 dengan mengungkapkan bahwa lebih dari 40 negara telah menyatakan komitmen atau ketertarikan kuat untuk membeli Bitcoin sebagai aset cadangan negara. Tren ini merupakan kelanjutan dari efek domino pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis oleh AS pada tahun 2025. Kendati demikian, baru 13 pemerintahan yang kepemilikannya terverifikasi secara publik dengan total nilai mencapai $37,9 miliar.

2. Perubahan Haluan MSTR: Program Monetisasi (penjualan) BTC $1,25 Miliar

Langkah ini mengejutkan dan mematahkan narasi ikonik "Never Sell" (Tidak Akan Pernah Menjual) yang selama ini digaungkan oleh Executive Chairman Microstategy, Michael Saylor.

Bukan sekadar penjualan sekali saja, pada 29 Juni 2026, Strategy Inc. secara resmi mengumumkan peta jalan keuangan baru yang disebut Digital Credit Capital Framework. Di bawah kebijakan baru ini, MSTR menyetujui program Monetisasi Bitcoin senilai hingga $1,25 miliar. Artinya, perusahaan secara resmi beralih dari strategi pure buy-and-hold (hanya membeli dan menyimpan) menjadi strategi dinamis yang mengizinkan penjualan Bitcoin secara berkala.


Share:

Dari Mana Bitcoin Berasal? (Bitcoin Minning Explained)

Siapa yang menerbitkan Bitcoin? Jika uang Rupiah diterbitkan oleh Bank Indonesia dan Dollar diterbitkan oleh Federal Reserve di Amerika Serikat, maka jawabannya untuk Bitcoin cukup mengejutkan: Tidak ada satu pun lembaga, bank, atau pemerintah yang menerbitkannya.

Lalu, dari mana Bitcoin baru itu berasal? Di sinilah peran penting dari proses yang disebut Bitcoin Mining (Penambangan Bitcoin). Mari kita bedah cara kerja Bitcoin mining dengan analogi yang sederhana.


Memahami Cara Kerja Bitcoin

Sebelum memahami mining kita harus paham dulu cara kerjanya. Analoginya bitcoin  adalah Buku Besar Digital Bersama, suatu catatan pembukuan akutansi digital yang disalin oleh semua anggota yang tersebar dalam suatu komunitas (jaringan).

Jika Anda mentransfer uang ke teman via bank, bank akan mencatat transaksi itu di buku besar mereka. Bitcoin melakukan hal yang sama, tetapi bukunya tidak dimiliki oleh satu bank. Buku besar Bitcoin (disebut blockchain) terbuka dan didistribusikan ke ribuan komputer komunitas di seluruh dunia, menjadikannya sangat sulit untuk dimanipulasi.

Analogi Sederhana: Lomba Tebak Kode

Transaksi bitcoin dikelompokkan dalam satuan halam transaksi yang disebut "blok" yang kemudian saling berkaitan secara kronologis, itu sebabnya disebut dengan nama blockchain. Karena tidak ada bank yang bertugas mencatat, tugas ini diserahkan kepada para penambang (miners), yaitu orang-orang di seluruh dunia yang secara sukarela menghubungkan komputer mereka ke jaringan Bitcoin.

Proses mencatat dengan menambahkan blok baru ini disebut mining (penambangan). Namun menambahkan blok ini tidak bisa begitu dilakukan, syaratnya komputer-komputer khusus tersebut harus bersaing untuk memecahkan kode dan sebagai imbalannya, yang berhasil memecahkan kode mendapatkan hadiah bitcoin baru dan/atau fee, yang secara digital dicatatkan ke dalam dompet mereka.

Gamabaran prosesnya mirip seperti ini:

  1. Penambang mengumpulkan data transaksi terbaru dari orang-orang yang saling mengirim Bitcoin.
  2. Agar halaman transaksi (block) tersebut disahkan (valid) dan terkunci, para miner dengan kemampuan komputernya harus berlomba menebak "kode" yang tepat.
  3. Siapa pun yang paling cepat menebak kode tersebut, dialah pemenangnya, dan imbalannya, sistem secara otomatis menerbitkan Bitcoin baru dan/atau fee sebagai hadiah untuk si penambang.

Jadi, menambang Bitcoin itu bukan menggali tanah dengan sekop, melainkan mengerahkan daya komputasi komputer untuk mengamankan jaringan, dan imbalannya adalah Bitcoin.

Kenapa Disebut "Menambang"?

Istilah ini digunakan karena secara filosofi prosesnya sangat mirip dengan menambang di dunia nyata:

  • Butuh Usaha & Modal: Menambang emas butuh alat berat dan tenaga kerja. Menambang Bitcoin butuh komputer super canggih dan listrik yang besar.
  • Yang ditambang adalah barang yang memiliki nilai: Emas di bumi sangat berharga diakui bernilai tinggi. Begitu juga Bitcoin, meski pada awalnya belum banyak yang mengakui (mungkin karena belum memahami), saat ini bitcoin terbukti bernilai sangat tinggi.
  • Semakin Lama Semakin Sulit: Semakin banyak orang yang ikut menambang, sistem Bitcoin secara otomatis akan membuat "kode" yang semakin sulit untuk dipecahkan.

Dulu, di awal kemunculannya, Anda bisa menambang Bitcoin hanya dengan laptop biasa di rumah. Namun sekarang, kompetisinya sudah sangat ketat. Para penambang profesional saat ini menggunakan:

  • ASIC Miner: Komputer khusus yang dirancang hanya untuk satu tugas: menebak kode Bitcoin secepat mungkin. Komputer ini tidak bisa digunakan untuk main game atau mengetik.
  • Listrik yang Besar: Komputer-komputer ini bekerja 24 jam non-stop dan menghasilkan panas yang luar biasa, sehingga membutuhkan sistem pendingin raksasa.
  • Mining Pool: Karena bersaing sendirian sangat sulit, para penambang kecil biasanya bergabung dalam sebuah kelompok (pool) untuk menyatukan kekuatan komputer mereka dan berbagi hasilnya bersama-sama.

Berapa hadiah menambang bitcoin?

Hadiah yang diterima oleh penambang Bitcoin terdiri dari dua komponen: Bitcoin baru dan biaya transaksi (fee).

Bitcoin baru adalah hadiah utama yang dicetak langsung oleh sistem. Bitcoin dirancang agar pasokannya terbatas/langka yaitu dengan cara memberikan jumlah hadiah berkurang setengahnya setiap 4 tahun sekali melalui peristiwa yang disebut Bitcoin Halving. Jika di awal peluncuran miner mendapat 50 BTC per blok, saat ini hadiah sudah menurun, terjadi halving sebanyak empat kali menjadi 3,125 per blok. 

Berikut adalah perubahan jumlah hadiahnya dari waktu ke waktu:  

  • 2009 – 2012: 50 BTC per blok
  • 2012 – 2016: 25 BTC per blok
  • 2016 – 2020: 12,5 BTC per blok
  • 2020 – 2024: 6,25 BTC per blok
  • 2024 – 2028 (Sekarang): 3,125 BTC per blok
  • Prediksi April 2028 (Halving berikutnya): Hadiah akan turun lagi menjadi 1,5625 BTC.

Selain mendapatkan Bitcoin baru, penambang juga berhak mengambil seluruh biaya transaksi yang dibayarkan oleh pengguna yang mengirim Bitcoin di dalam blok tersebut. Berbeda dengan subsidi blok yang jumlahnya pasti, biaya transaksi ini selalu berubah-ubah tergantung seberapa sibuk jaringan Bitcoin saat itu.  Jika banyak orang yang sedang mengantre untuk mengirim Bitcoin, mereka akan saling mendongkrak biaya transaksi agar transferan mereka diprioritaskan oleh penambang.


Kembali ke pertanyaan awal: siapa yang menerbitkan Bitcoin? Jawabannya adalah sistem kode pemrograman Bitcoin itu sendiri, yang diberikan sebagai hadiah kepada para penambang yang jujur.

Jadi, Bitcoin mining adalah proses ganda. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai sistem keamanan untuk memastikan tidak ada transaksi palsu. Di sisi lain, ia berfungsi sebagai mesin cetak otomatis yang merilis Bitcoin baru ke dunia tanpa perlu campur tangan bank sentral.

Share:

Bitcoin Bukan Kripto?

Jika Anda berdiskusi dengan para Bitcoin maksimalis (Bitcoiner), mereka sering kali menegaskan kalimat yang terdengar aneh: "Bitcoin bukan kripto."

Secara teknis, Bitcoin memang menggunakan teknologi kriptografi, yang menjadikannya bagian dari keluarga besar mata uang kripto. Namun bagi Bitcoiner,  Bitcoin berbeda dan tidak sama dengan kripto biasa. Mereka memiliki pemahaman mendalam sehingga yang mereka yakin secara fundamental, filosofi, dan fungsi Bitcoin berbeda dari ribuan aset digital lainnya yang sering disebut altcoin atau kripto biasa.

Berikut adalah alasan fundamental memahami Bitcoin itu berbeda, tidak sama dengan "kripto" biasa.


1. Desentralisasi Sempurna Tanpa Kontrol Terpusat

Siapa yang memegang kendali? Ini adalah poin krusial membedakan Bitcoin dengan kripto.

Bitcoin lahir sejalan dengan ideologi Penciptanya dalam memahami uang. Dan sang penciptanya memilih menjadi anonymus, Satoshi Nakamoto, menghilang begitu saja setelah jaringan bitcoin berjalan. Tidak ada CEO, tidak ada kantor pusat, tidak ada yayasan, dan tidak ada tim pemasaran. Jaringan Bitcoin dijalankan oleh jutaan komputer (node) secara sukarela di seluruh dunia. Tidak ada satu orang pun yang bisa mematikan atau mengubah aturan Bitcoin secara sepihak.

Di sisi lain hampir semua kripto lahir sebagai "proyek" memiliki pendiri yang dikenal, yayasan (foundation), atau sekelompok pengembang inti yang dapat mengendalikan arah proyek tersebut. Jika pemerintah ingin menekan proyek kripto tersebut, mereka tinggal memanggil CEO atau yayasannya. Namun di Bitcoin, tidak ada orang yang bisa "dipanggil" atau "diperintah" untuk menghentikan jaringannya.


2. Kelangkaan Mutlak

Perbedaan paling mendasar berikutnya terletak pada jumlah pasokannya.

Bitcoin memiliki batasan pasokan yang mutlak dan tidak bisa diubah oleh siapa pun, yaitu hanya akan pernah ada 21 juta Bitcoin di dunia ini. Sifatnya yang langka secara digital membuat Bitcoin sering disebut sebagai "Emas Digital".

Sedangkan mayoritas token atau proyek kripto lain memiliki pasokan yang bisa diubah, tidak terbatas, atau dikendalikan oleh tim pengembangnya. Jika pembuatnya memutuskan untuk mencetak koin baru, mereka bisa melakukannya lewat pembaruan kode secara sepihak.


3. Komoditas vs. Saham Perusahaan (Sekuritas)

Perbedaan ini bahkan diakui oleh regulator keuangan dunia, seperti SEC Amerika Serikat.

Bitcoin dikategorikan sebagai Komoditas, sama seperti emas atau minyak bumi. Bitcoin adalah aset mentah digital yang tidak bergantung pada "kinerja perusahaan / peran orang dalam" agar nilainya naik. Nilainya murni ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran global.

Namun kripto lain banyak dikategorikan sebagai Sekuritas (mirip saham). Ketika seseorang membeli token kripto baru, mereka biasanya berharap nilainya naik karena kerja keras tim pengembang, strategi pemasaran, atau janji-janji teknologi dari perusahaan dibelakangnya.


4. Penemuan yang Tercipta dari Inovasi bukan Replika

Bitcoiner melihat Bitcoin sebagai sebuah "Penemuan" yang asli.

Pencipta menemukan solusi atas masalah media digital dan ekonomi yang belum pernah terpecahkan selama puluhan tahun: bagaimana cara mentransfer nilai secara digital dari si A ke si B, memanfaatkan matematika  tanpa perlu pihak ketiga (seperti bank) dan tanpa bisa dipalsukan. Ini adalah fenomena penemuan kelangkaan digital yang mutlak.

Kripto lain meniru atau modifikasi dari konsep dan teknologi Bitcoin. Karena kode Bitcoin bersifat terbuka (open-source), siapa saja bisa menyalinnya, mengganti namanya, membuat janji bahwa teknologi mereka "lebih cepat atau lebih murah", lalu menjualnya ke publik. Bagi Bitcoiner, hal ini mirip seperti membuat replika emas tiruan dan mengklaimnya lebih baik dari emas asli.


5. Keamanan Protokol Berbasis Sumber Daya (Energi)

Mekanisme di balik berjalannya sistem pertukaran juga sangat kontras.

Bitcoin menggunakan mekanisme Proof of Work (PoW). Untuk mengamankan jaringan dan memverifikasi transaksi, dibutuhkan sumber daya (komputasi dan energi listrik nyata) yang sangat besar. Keamanan Bitcoin "dijangkar" pada hukum fisika dunia nyata, membuatnya menjadi jaringan komputer paling aman di planet bumi.

Kripto lain banyak yang menggunakan atau beralih ke mekanisme Proof of Stake (PoS). Di sini, transaksi diverifikasi oleh mereka yang mengunci atau memiliki koin paling banyak. Bagi Bitcoiner, sistem ini mirip dengan sistem keuangan tradisional yang korup: "yang kaya memiliki suara terbanyak dan yang kaya menjadi semakin kaya."


Untuk memudahkan pemahaman, mungkin bisa dibayangkan analogi berikut:

"Jika Bitcoin adalah layaknya internet". Internet adalah protokol dasar yang gratis, terbuka, tidak dimiliki oleh perusahaan mana pun, dan digunakan oleh seluruh dunia. "Maka kripto adalah seperti aplikasi di atas internet" (seperti Facebook, Netflix, atau Uber), mereka adalah bisnis milik perusahaan swasta, memiliki CEO, bisa bangkrut, bisa menyensor penggunanya, untuk mencari keuntungan pemiliknya.

Ketika para Bitcoiner mengatakan "Bitcoin bukan kripto", ini adalah penegasan bahwa Bitcoin adalah protokol yang netral dan abadi, sedangkan "kripto" hanyalah sekumpulan proyek teknologi, eksperimen perusahaan, atau bahkan sekadar spekulasi yang menumpang ketenaran Bitcoin.

Share:

Nabung Bitcoin Eps. 006 dan News Update Juni 2026

Di awal bulan Juni 2026 ini harga Bitcoin kembali crash ke level 1,2 miliaran per Bitcoinnya. Dampaknya, saldo di Nabung Bitcoin Episode 6 ini kembali drop sehingga secara nilai rupiah mengalami kerugian sekitar tiga ratus ribuan dari modal enam juta menjadi lima juta enam ratus ribuan. Namun demikian saya sampaikan bahwa meskipun sudah sempat naik atau untung di minggu lalu dan turun lagi atau rugi di minggu ini, saya akan tetap lanjutkan terus agenda Nabung Bitcoin ini setiap bulan kedepannya.

Selanjutnya berikut ini sampaikan highlight peristiwa-peristiwa tentang Bitcoin, terutama berita terkait perkembangan adopsi di dunia dalam satu bulan terakhir yang terjadi di bulan Mei 2026:

1. Strategy (MSTR) Menjual Bitcoin untuk pertama kalinya Saat Harga Bitcoin Anjlok.

Perusahaan analitik perangkat lunak yang dikenal sebagai pemegang institusional terbesar, MicroStrategy (MSTR), mengejutkan pasar dengan menjual sebagian aset Bitcoin miliknya untuk pertama kalinya. Langkah tidak biasa ini terjadi di tengah koreksi tajam harga Bitcoin yang membuat pasar kripto mengalami tekanan hebat. Penjualan ini menarik perhatian besar dari para pelaku pasar karena MicroStrategy selama ini dikenal memiliki strategi investasi jangka panjang yang sangat agresif dan berkomitmen untuk terus mengakumulasi Bitcoin tanpa berniat menjualnya.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa keputusan penjualan ini murni diambil demi efisiensi strategi perpajakan perusahaan (tax-loss harvesting), di mana kerugian dari penjualan aset dapat digunakan untuk mengurangi beban pajak keuntungan modal di masa mendatang. Meskipun melakukan penjualan perdana ini, MicroStrategy menegaskan bahwa komitmen mereka terhadap standar standar Bitcoin tidak berubah. Tidak lama setelah aksi jual tersebut, perusahaan justru langsung membeli kembali Bitcoin dalam jumlah yang lebih besar, menegaskan bahwa mereka tetap optimis terhadap prospek jangka panjang aset kripto utama ini. (Bitcoin Magazine)


2. Putusan Pengadilan Tinggi Afrika Selatan Mengakui Bitcoin sebagai Alat Tukar Resmi untuk Transaksi Modal

Pada akhir Mei 2026, Pengadilan Tinggi Afrika Selatan mengeluarkan putusan hukum negara (Landmark Ruling) yang menegaskan bahwa Bitcoin secara fungsional memenuhi syarat sebagai aset finansial yang mampu menyimpan nilai sekaligus digunakan sebagai alat tukar (medium of exchange). Konsekuensinya, transfer Bitcoin ke luar negeri kini resmi dikategorikan sebagai perpindahan kapital yang tunduk pada aturan kontrol devisa negara.

Langkah yudisial ini memberikan dualisme dampak yang menarik. Di satu sisi, komunitas crypto setempat merasa ruang gerak mereka diperketat oleh aturan devisa; namun di sisi lain, ini adalah pengakuan hukum tertinggi bahwa negara kini memandang kode digital Bitcoin setara dengan fungsi uang riil dalam sistem makroekonomi mereka.


Share:
Bitcoin Logo Bitcoin (BTC)
Sedang memuat...
Harga IDR Real-time via CoinGecko

Recent Posts

Popular Post

Support Us

Support Us
Donate Sats or BTC through LN disclaimer@walletofsatoshi.com

Disclaimer #EdukasiBitcoin

Informasi yang disampaikan dalam blog ini bukan rekomendasi keuangan atau investasi. Kami sarankan kepada Anda untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.