Belajar, Sharing Informasi & Opini Tentang Bitcoin
Don't Trust, Verify #Disclaimer is always ON
Bukan Rekomendasi Investasi/Keuangan #DYOR

Mengapa Hanya Ada 21 Juta Bitcoin? Ini Penjelasannya!


Pernah dengar tentang Bitcoin? Cryptocurrency yang pertama yang dibuat pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Jika belum dan anda ingin mengetahuinya, silakan buka tautan Mengenal Bitcoin, Mata Uang Digital yang Semakin Populer.

Satu hal yang menjadi menarik perhatian dari Bitcoin yaitu, jumlahnya hanya ada 21 juta, dan tidak bisa bertambah lagi. Hal inilah yang dihubungkan dengan hukum supply & demand dalam ekonomi, yaitu ketika suatu aset jumlahnya terbatas atau langka, (jika permintaan tumbuh) maka harganya akan naik. Apakah harga Bitcoin akan terus naik, dan kapan naiknya tidak ada tahu, pada kenyataannya harga Bitcoin masih terus berfluktuasi.

Tapi, mengapa hanya 21 juta? Mengapa tidak bisa dibuat lebih banyak, mari kita bahas dengan bahasa yang sederhana!

1. Sejak awal Bitcoin sengaja dirancang terbatas oleh Penciptanya

Salah satu kosep dasar Bitcoin adalah menentang sistem uang fiat yang dapat dicetak oleh pemilik otoritas dalam jumlah yang tidak tentu, bahkan dalam kasus-kasus tertentu negara-negara di dunia melakukan pencetakan uang fiat begitu banyaknya. Hal ini mengakibatkan nilai uang menjadi turun dan harga-harga naik, yang secara umum kita kenal dengan nama inflasi.

Pencipta Bitcoin ingin agar mata uang ciptaannya benar-benar menjadi penyimpan nilai kekayaan yang aman dan tidak menurun dalam jangka panjang. Hasil yang diperoleh seseorang dari usaha dan sumber daya yang dikeluarkan saat ini, ingin tetap secara adil dapat disimpan dalam mata uang yang bisa ditukar dengan barang/jasa atau  aset minimal dengan nilai yang tetap setara, dimasa mendatang.

Oleh karena itu supply Bitcoin sebagai mata uang menurutnya harus terencana dalam peredarannya.

2. Jawabannya Ada di dalam "Protokol Bitcoin" 💻

Sebenarnya jumlah 21 juta ini tidak ditentukan sebagai batasan yang ditetapkan begitu saja. Total jumlah Bitcoin ini tertanam di dalam protokol (kode pemrograman) Bitcoin. Protokol Bitcoin ini seperti aturan main yang sudah ditetapkan sejak awal.

Bitcoin baru terbit sebagai hadiah dari proses minning (penambangan). Yaitu proses di mana komputer-komputer khusus pencatat transaksi Bitcoin bersaing untuk menjadi pencatat pertama dari suatu transaksi yang terjadi dalam jaringan Bitcoin. Catatan ini kemudian dihimpun menjadi kumpulan catatan transaksi yang disebut dengan blok.

  1. Protokol mengatur sedemikian rupa, sebuah blok baru terbentuk setiap sekitar 10 menit.
  2. Setiap terbentuknya blok baru, penambang menerima hadiah berupa fee transaksi dan sejumlah Bitcoin baru.
  3. Pada awalnya, hadiah setiap tebentuknya blok baru adalah 50 Bitcoin.
  4. Jumlah hadian ini bekurang setengahnya setiap terbentuknya 210.000 blok baru (terjadi sekitar periode 4 tahun), menjadi 25 Bitcoin, kemudian 12,5 Bitcoin dan seterusnya. Ini yang disebut Halving Bitcoin.
  5. Proses halving ini berlanjut hingga hadiah blok semakin lama dan semakin sedikit dari waktu ke waktu hingga mendekati nol, di mana total Bitcoin yang diterbitkan akan mencapai batas 21.000.000 BTC.

Begini kira-kira perhitungan jumlah Bitcoin baru yang terbit.

Total BTC = 210.000 x (50 + 25 + 12.5 + 6.25 + 3.125 + 1.5625 + ...)

Dimana setelah dilakukan perhitungan dan pembulatan maka jumlah Bitcoin yang akan terbit totalnya adalah 20.999.999,9769 Bitcoin (~ 21.000.000).


3. Apakah Jumlah Terbatas Bitcoin Ini Penting?

Total 21 juta Bitcoin ini menjadi "fitur" yang sangat penting yang dirancang untuk memberikan dua manfaat besar:

  • Anti-Inflasi: Uang tradisional bisa dicetak tanpa batas oleh bank sentral. Jika terlalu banyak uang dicetak, nilainya akan turun (inilah yang disebut inflasi). Karena Bitcoin memiliki batas pasti (yaitu 21 juta), ia diharapkan tahan terhadap inflasi. Kelangkaannya inilah yang diharapkan dapat menjaga nilainya dalam jangka panjang.
  • Kepercayaan: Batasan ini membuat orang percaya pada sistem Bitcoin. Mereka tahu bahwa tidak ada satu pun pihak, baik pemerintah, bank, atau bahkan penciptanya yang bisa tiba-tiba "mencetak" Bitcoin lebih banyak untuk keuntungan mereka sendiri. Aturan mainnya tetap dan transparan untuk semua orang.


Kesimpulan:

Singkatnya, hanya akan ada 21 juta Bitcoin karena aturan tersebut sudah tertulis dalam protokol dan ditegakkan oleh seluruh jaringan komputer yang menjalankan jaringan Bitcoin. Aturan ini dirancang agar Bitcoin menjadi aset yang langka dan tahan inflasi, memberinya nilai dan keunikan di dunia digital.

Jumlah Bitcoin belum seluruhnya terbit saat ini, namun jika dihitung, saat ini sudah terbit sekitar 20 juta Bitcoin, dan sisanya akan terbit secara kontinyu sesuai protokol sebagaimana dijelaskan di atas dan diperkiran penerbitan terakhir terjadi pada tahun 2140 nanti.

Share:

Mengapa Bitcoin Secara Teknis Sangat Kuat, Tahan Retas, & Bebas Intervensi

Jika Anda mulai mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset, penting untuk memahami bahwa nilainya tidak hanya terletak pada harganya, tetapi juga pada kekuatan teknologi di belakangnya.

Bitcoin bukan sekadar mata uang digital; melainkan sebuah sistem atau protokol yang berjalan dalam jaringan internet global yang dirancang secara cermat agar tahan sensor, tahan gangguan, dan tidak dapat diatur-atur secara sembarangan oleh entitas mana pun. Berikut ini adalah penjelasannya.

1. Kriptografi dan Blockchain

Benteng keamanan teknis Bitcoin adalah penggunaan kriptografi canggih dan struktur data blockchain, hal ini menjadi fondasi utama kekuatan protokol bitcoin yang tahan peretasan, dan bebas intervensi.

A. Enkripsi, Transparansi Dan Anonimitas

Semua transaksi dilindungi dengan enkripsi, namun tetap transparan sehingga dapat dilihat oleh siapa pun di seluruh dunia, dengan identitas pengguna dilindungi oleh alamat publik (serangkaian angka dan huruf). Transparansi penuh ledger (buku besar) memastikan bahwa setiap orang dapat memverifikasi aturan, tetapi privasi pengguna tetap terjaga.

B. Tahan Peretasan (Immutability)

Setiap transaksi Bitcoin dikelompokkan ke dalam "blok" dan dienkripsi menggunakan fungsi yang kompleks. Setelah sebuah blok ditambahkan, ia tidak dapat diubah karena catatan transaksi tersebut direkam seluruh jaringan global Bitcoin bagai rantai yang saling mengait.

Protokol bitcoin sudah mengatur, jika ada pihak yang hendak mengubah atau memanipulasi catatan data transaksi Persyaratan komputasi ini (maka dibutuhkan konsensus jaringan 51%) secara ekonomi sangat mahal dan praktis tidak mungkin dilakukan pada jaringan sebesar Bitcoin, menjadikannya aset digital yang paling aman di dunia.

2. Tidak Ada Pusat Kendali

"Desentralisasi", inilah pembeda terbesar Bitcoin dari sistem keuangan digital yang tradisional (bank, PayPal, dll.) atau server perusahaan mana pun.

A. Jaringan Global Para Penambang dan Node

Bitcoin tidak mempunyai pusat kendali atau server pusat, melainkan didukung oleh ribuan komputer yang tersebar di seluruh dunia yang menjalankan node dan penambang.

Node: Mereka memverifikasi dan menyebarkan transaksi, memastikan bahwa setiap orang mengikuti aturan yang sama.

Penambang: Mereka berkompetisi memecahkan masalah matematika kompleks (Proof-of-Work) untuk menambahkan blok baru.

Karena tidak ada satu server pusat pun, jaringan ini kebal terhadap titik kegagalan tunggal (Single Point of Failure). Jika satu pihak mematikan server atau mencoba menyensor transaksi, ribuan node di tempat lain tetap beroperasi, menjaga jaringan tetap hidup.

B. Kebal Regulasi Sembarangan

Desentralisasi adalah kunci mengapa Bitcoin tidak dapat diatur secara sewenang-wenang oleh pemerintah atau bank sentral mana pun.

Pemerintah dapat mencoba mengatur entitas yang terpusat (seperti bursa kripto atau bank), tetapi mereka tidak dapat secara fisik mematikan protokol Bitcoin itu sendiri atau mencegah dua individu bertukar Bitcoin di luar entitas yang diatur. Bitcoin beroperasi berdasarkan protokolnya, bukan atas izin.

3. Protokol: Kepatuhan yang Terjamin

Perubahan dalam protokol Bitcoin sangat sulit dilakukan. Untuk mengubah aturan dasar protokol Bitcoin, harus ada konsensus yang sangat luas dari para penambang, node, pengembang, dan pengguna. Proses ini sengaja dibuat sulit dan lambat (Hard Fork atau Soft Fork) untuk melindungi integritas protokol dari perubahan sembarangan.

Bitcoin sebagai aset meyakinkan bukan hanya karena populer sebagai yang pertama. Ia meyakinkan karena kekuatan teknologinya menjamin bahwa nilai aset Anda aman dari peretas, tidak dapat dicetak secara berlebihan untuk mendanai utang pemerintah, dan sepenuhnya berada di bawah kendali Anda sebuah properti yang langka di dunia keuangan modern.


Catatan: 

  1. Penulis bukanlah ahli ilmu komputer, coding maupun programing. Informasi di atas diperoleh dari berbagai sumber dalam mempelajari Bitcoin dengan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki untuk melakukan verivikasi.
  2. Penjelasan di atas berlaku untuk Bitcoin dengan penyimpanan self costudy / non costudial wallet. Bagi pemula dapat mempelajari lebih lanjut tentang costudial dan non costudial wallet.  
  3. Untuk investasi pembaca disarankan mempelajari sendiri lebih lanjut dan keputusan investasi dan resikonya adalah tanggung jawab pribadi masing-masing.

Share:

Bitcoin: Mata Uang Digital yang Semakin Populer

pixabay.com - vjkombajn
Anda pasti pernah mendengar kata "Bitcoin" di berita, atau sekedar obrolan dari teman. Tapi apa sebenarnya Bitcoin? Apakah benar Bitcoin adalah uang elektronik atau sekadar tren instrumen investasi musiman?
Artikel ini akan coba menjelaskan Bitcoin dengan bahasa yang sederhana, agar mudah dipahami bagi orang yang masih awam.


Apa Itu Bitcoin?

Bitcoin dirancang untuk menjadi alat tukar atau pembayaran seperti uang digital. Bitcoin dibuat pada tahun 2009 oleh seorang/entitas misterius yang dikenal dengan nama Satoshi Nakamoto. Mengapa disebut misterius, iya karena sampai dengan saat ini tidak pernah muncul, dan tidak ada sumber manapun yang mengetahui siapa sebenarnya ia dan dimana keberadaannya.

Di Indonesia saat ini bitcoin (atau dikenal juga dengan kode BTC) diakui secara legal sebagai aset digital. Bitcoin memiliki nilai dan kita menyimpannya dan  mentransfernya ke siapa pun di seluruh dunia, dan menyimpannya di "dompet digital".

Di masa depan, jika peraturan mendukung mungkin kita bisa menggunakannya untuk membeli barang atau jasa. Hal tersebut bukan hal yang mustahil, karena di dunia ini sudah ada negara yang melegalkan bitcoin sebagai alat pebayaran (legal tender) seperti El Salvador dan Afrika Tengah.

Berikut ini adalah beberapa hal mendasar yang dapat dijelaskan untuk mulai memahami bitcoin :

  • Digital Murni: Bitcoin tidak berbentuk fisik seperti koin atau kertas, namun 100% digital di mana jumlah koin pada dasarnya adalah data digital yang direkam dalam buku besar catatan digital yang salinan rekamannya secara otomatis disimpan bersama oleh komunitas.
  • Tidak Terpusat (Decentralized): Tidak ada lembaga seperti bank sentral, pemerintah, atau lembaga tunggal yang mengendalikan Bitcoin. Data digital bitcoin direkam dalam jaringannya, yang dijalankan melibatkan ribuan komputer oleh komunitas yang tersebar di seluruh dunia.
  • Terbatas: Tidak seperti uang biasa (uang fiat) yang bisa dicetak sebanyak-banyaknya oleh bank sentral, jumlah Bitcoin sangat terbatas. Hanya akan ada 21 juta Bitcoin yang dapat diterbitkan. Kelangkaan ini adalah salah satu alasan mengapa nilainya bisa tinggi.

Bagaimana Cara Kerja Bitcoin? (Analoginya)

Mari kita gunakan analogi sederhana: Buku Besar Digital Bersama.

Jika Anda mentransfer uang ke teman via bank, bank akan mencatat transaksi itu di buku besar mereka. Bitcoin melakukan hal yang sama, tetapi bukunya tidak dimiliki oleh satu bank.

  • Buku besar Bitcoin (disebut blockchain) terbuka untuk umum dan didistribusikan ke ribuan komputer komunitas di seluruh dunia.
  • Setiap transaksi Bitcoin tercatat di buku besar dan dapat dibuka secara transparan oleh siapa pun, menjadikannya sangat sulit untuk dipalsukan.
  • Transaksi dikelompokkan dalam "blok - blok" yang saling berkaitan secara kronologis, itu sebabnya disebut dengan nama blockchain.

Proses menambahkan blok baru ini disebut mining (penambangan), di mana komputer-komputer khusus miliki anggota komunitas bersaing untuk memecahkan teka-teki matematika kompleks. Sebagai imbalannya, "penambang" tersebut mendapatkan bitcoin baru dan/atau fee.

Untuk Apa Saja Bitcoin Digunakan?
  • Transfer Internasional: Mengirim uang ke luar negeri dengan Bitcoin bisa lebih cepat dan dengan biaya yang lebih murah dibandingkan metode tradisional.
  • Investasi: Banyak orang membeli dan menyimpan Bitcoin dengan harapan nilainya akan naik di masa depan. Namun, penting diingat bahwa harganya sangat volatil (bisa naik-turun dengan drastis).
  • Transaksi: Semakin banyak merchant dan bisnis, baik online maupun offline, yang mulai menerima Bitcoin sebagai pembayaran.

Hal Penting yang Perlu Diketahui untuk Pemula
  • Volatilitas Tinggi: Harga Bitcoin bisa naik atau turun secara signifikan dalam waktu singkat. Ia bukan tempat yang aman untuk menyimpan semua tabungan Anda.
  • Masih Berkembang: Teknologi dan regulasi Bitcoin masih terus berkembang. Ia belum sepenuhnya diadopsi secara global.
  • Tanggung Jawab Pribadi: Karena tidak ada bank yang mengawasi, Anda sendiri yang bertanggung jawab penuh atas keamanan dompet dan uang digital Anda. Jika kunci akses (private key) hilang, Bitcoin Anda bisa hilang selamanya.

Bitcoin adalah penemuan revolusioner yang memperkenalkan konsep uang digital yang terdesentralisasi. Ia menawarkan potensi untuk mengubah cara kita memandang dan menggunakan uang, meskipun disertai dengan risiko dan ketidakpastian.

Memahaminya adalah langkah pertama yang penting. Selalu lakukan penelitian yang mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum memutuskan untuk berinvestasi atau menggunakan bitcoin atau cryptocurrency lain apapun.
Share:

Sejarah Uang dan Perkembangannya Hingga Era Digital

Mengapa Manusia Membutuhkan Alat Tukar?

Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan. Pada mulanya, manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan usaha sendiri. Ia memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memanfaatkan kekayaan alam. Misalnya dengan cara mencari buah-buahan dan berburu sendiri untuk mendapatkan makanan, membuat pakaian sendiri dari material yang diperoleh di alam, membangun tempat tinggal untuk beristirahat dan berlindung serta berbagai kebutuhan lainnya.

Namun dengan beragamnya kebutuhan serta dorongan keinginan untuk memiliki berbagai jenis aset, manusia menyadari bahwa produk atau usaha sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup dirasa tidak cukup, tidak semua jenis aset bisa dipenuhi secara mandiri. Di sisi lain, ada orang lain yang berkelebihan (surplus) atas barang-barang barang dibutuhkannya. Kondisi ini memunculkan ide untuk memenuhi kebutuhan antar manusia, yaitu dengan melakukan barter atau bertukar barang untuk saling melengkapi kebutuhan masing-masing.

Kemudian disadari, barter tidak cukup efektif, karena kesulitan menemukan orang yang memiliki barang yang diinginkan dan bersedia melakukan barter. Tidak hanya itu, dalam barter juga tidak mudah menyepakati jumlah atau nilai pertukaran yang pasti, yang dianggap setara atau hampir sama nilainya. Maka kemudian munculah ide menggunakan benda-benda tertentu untuk dijadikan penyimpan nilai sebagai alat tukar.


Memanfatkatan Benda Berharga Sebagai Alat Tukar (Uang Barang & Uang Logam)

Menurut berbagai literatur, sepanjang sejarah manusia, beberapa macam benda-benda yang pernah ditetapkan sebagai alat tukar merupakan benda-benda yang diterima secara umum, bernilai tinggi (tidak memiliki nilai magis atau mistis), atau beda-benda yang menjadi kebutuhan primer.

Sebagai contoh, pada zaman Romawi kuno, garam (bahasa Latin: sal) pernah digunakan bangsa Romawi sebagai alat tukar ataupun upah dengan sebutan salarium. Hingga kini pengaruh Romawi masih kentara dari orang-orang Inggris yang menyebut upah sebagai salary.

Selain garam, ada benda-benda lain yang juga diceritakan pernah dijadikan sebagai alat tukar seperti kulit kerang, kulit hewan, maupun hasil pertanian dan lain sebagainya. Namun masalah muncul bahwa barang-barang tersebut tidak tahan lama, sulit dipecah atau bagi, dan tidak semua orang juga menganggap bahwa barang-barang tersebut adalah barang berharga, sehingga tidak semua orang mau menerimanya.

Kemudian ketika peradaban semakin modern, muncul uang logam pada 1000 SM di Tiongkok. Logam dipilih saat itu karena memiliki nilai yang tinggi dan digemari secara umum, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, tahan lama, mudah untuk dipindah-pindahkan, dan tidak mudah rusak.

Dalam perkembangan selanjutnya, tatkala kerajaan-kerajaan mulai berdiri, para penguasa menegaskan kekuatannya dengan mencetak ukiran wajah atau lambang kerajaan pada sisi-sisi uang. Logam-logam yang lebih berharga, seperti emas, perak, dan perunggu semakin banyak digunakan untuk bahan baku uang. Bentuk fisik uang sendiri beragam, semisal lonjong, segitiga, atau kotak.

Logam jenis emas dan perak dengan karakteristiknya yang digemari dan bisa dipahami orang banyak dalam perkembangannya dijadikan sebagai alat tukar yang "disepakati" diberbagai penjuru dunia. Uang perak dan emas juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Uang penuh, berarti nilai intrinstik (secara material) adalah setara dengan nilai nominalnya (yang tercantum).


Kemunculan Uang Kertas

Seiring waktu, kemudian muncul kendala, bahwa untuk transaksi besar maka ada kesulitan jika membawa dan menggunakan uang logam dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, kemudian muncullah uang kertas, dimana awalnya uang kertas tersebut adalah bukti kepemilikan emas yang disimpan oleh pihak penjamin (saat ini bisa dikatakan pihak penjamin uang adalah bank), atau dengan kata lain uang kertas tersebut seperti sertifikat yang di-backup secara nyata dengan emas.

Uang kertas, pertama kali digunakan oleh masyarakat Tiongkok pada Dinasti Tang (diperkirakan antara tahun 618 - 907 Masehi), seseorang bernama Ts’ai Lun mulai menciptakan uang kertas dari bahan kulit kayu murbei. Pada akhirnya, uang kerta mulai menyebar ke seluruh dunia dan membuat berbagai negara turut menciptakan uang kertas.

Secara internasional dalam istilah perbankan, uang kertas juga dikenal dengan sebutan bank notes.


Berdirinya Bank Sentral

Setelah uang logam memudar, jaringan bank profesional mulai didirikan di Eropa Selatan dan Eropa Tengah pada abad pertengahan. Pada masa ini, sistem moneternya mulai dikontrol oleh pemerintah, terutama soal mata uang. Namun, bank memiliki wewenang untuk mengeluarkan, meminjamkan, dan mentransfer uang kertas tanpa kontrol langsung dari pemerintah.

Pada 1694, Disaat kondisi keuangan serta kredit Inggris yang saat itu sedang sangat rendah. Charles Montagu mengusulkan pendirian Bank of England, yang diberikan kepemilikan eksklusif atas saldo asing, dan sebagai satu-satunya instansi yang diizinkan untuk menerbitkan uang kertas. Ide Montagu pun berhasil, dan dalam waktu 12 hari, Bank of England telah mendapatkan lebih dari satu juta euro, yang kemudian digunakan untuk membangun kembali angkatan laut Inggris.

Kemudian pada 1844 melalui The Bank Charter Act 1844, status Bank of England resmi beralih dari milik perseorangan menjadi institusi publik. Oleh karena itu, banyak yang menganggap pengesahan The Bank Charter Act sebagai tonggak lahirnya bank sentral, yang konsepnya menjadi model dasar bagi berbagai bank sentral di penjuru dunia saat ini.


Dollar Sebagai Mata Uang Dunia

Pada awal abad ke-20, sistem mata uang dunia masih didominasi oleh ponsterling Inggris dan standar emas, di mana negara-negara menyimpan cadangan emas untuk mendukung nilai mata uang mereka. Namun, saat Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, banyak negara meninggalkan standar emas untuk membiayai kebutuhan perang mereka, menyebabkan devaluasi mata uang mereka. Inggris pun akhirnya juga meninggalkan standar emas  pada tahun 1919.

Pada akhir Perang Dunia II, Amerika Serikat menjadi negara dengan cadangan emas terbesar di dunia, yang semakin mengukuhkan dolar AS sebagai mata uang yang aman dan stabil untuk perdagangan internasional.

Perjanjian Bretton Woods di New Hampsire, Amerika Serikat tahun 1944 menetapkan dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia dan satu-satunya mata uang pascaperang yang terkait dengan emas. Dimana dolar yang dapat dikonversi menjadi emas batangan untuk pemerintah asing dan bank sentral pada US$35 per troy ons emas murni (atau 0,88867 gram emas murni per dolar). Dan negara-negara maju sepakat mengaitkan nilai tukar mata uang mereka dengan dolar AS.


Diputusnya Keterkaitan Dolar dengan Emas

Konsep Bretton Woods yang berusaha untuk menstabilkan keuangan internasional tidak bisa bertahan. Disaat perekonomian domestic Amerika Serikat yang tertekan karena perang Vietnam, Presiden Amerika Richard Nixon pada (1969 - 1974) memiliki keinginan untuk melakukan stimulasi bagi negaranya. Dia melakukan tekanan kepada bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve untuk memambah jumlah uang beredar di negara tersebut. 

Sehingga timbul masalah karena cadangan emas yang dimiliki oleh Amerika Serikat nilainya jauh di bawah nilai dolar AS yang beredar dan dimiliki oleh bank-bank sentral negara-negara asing. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah Amerika Serikat memiliki kemampuan yang cukup untuk menukarkan jumlah ini dengan emas yang mereka miliki.

Akhirnya pada Agustus 1971 konsep Bretton Woods akhirnya runtuh seiring dengan keputusan Nixon yang menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak lagi mengizinkan adanya konversi dari US$ dengan emas bagi berbagai bank sentral asing.Berdasarkan keputusan Nixon yang secara efektif membuyarkan konsep Bretton Woods, maka Amerika Serikat menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan terikat dengan konsep harga ini yang membuat hubungan dengan nilai emas sudah tidak berguna.


Uang Fiat

Dolar dan berbagai mata uang berbagai negara lainnya pada akhirmya menjadi uang fiat yang tidak lagi dibackup oleh emas. Mulailah yang kemudian dikenal dengan era nilai tukar mengambang (floating), dalam kondisi ini, nilai uang menjadi beresiko penuh dengan ketidakstabilan. Nilai uang fiat menjadi bergantung pada kepercayaan masyarakat sebagai pelaku pasar yang dipengaruhi oleh padangan-pandangan terhadap kekuatan ekonomi suatu negara yang menaunginya, serta kredibilitas pemerintahan atau bisa juga dikaitkan dengan kekuatan militernya.

Tanpa back up emas, kebijakan printing money oleh bank sentral cendrung menjadi sangat dipengaruhi oleh kebijakan orang atau kelompok yang memimpin atau menguasai dan mengendalikannya. Setiap bank sentral di masing-masing negara tentunya memiliki tata cara dan kebijakannya masing masing dalam mencetak uang. Namun realitas yang tidak dapat dibantah adalah, fakta bahwa inflasi terjadi dari waktu demi waktu, yang artinya nilai uang fiat terus terdepresiasi nilainya.

Ada pandangan yang menilai bahwa inflasi pada tingkatan tertentu adalah wajar, atau bahkan dianggap sebagai hal baik yang bisa mengindikasikan terjadinya pergerakan dan pertumbuhan ekonomi. Namun tidak sedikit juga orang yang memiliki pandangan berbeda, yang menilai inflasi mengakibatkan turunnya nilai uang,  sehingga merupakan hal yang buruk karena secara langsung berdampak pada nilai aset dan daya beli seseorang yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang fiat dari waktu ke waktu semakin turun.


Uang Digital (Digital Currecy)

Seiring dengan perkebangan teknologi digital, cara menyimpan uang dan cara bertraksasi juga terus berkembang. Dengan semakin canggih, kemudahan teknologi semakin dekat dan dapat dikendalikan secara langsung oleh perorangan. Uang tidak lagi harus ditransaksikan secara fisik, namun juga bisa dilakukan secara digital, pembayaran bisa dilakukan dengan cara transfer unit satuan saldo antar rekening.  Proses tersebut bisa dilakukan langsung secara perorangan menggunakan gawai dengan aplikasi mobile banking.

Konsep tersebut juga diadopsi oleh berbagai institusi/perusaan lain dengan menyediakan akun untuk mencatatkan uang yang disetor sebagai deposit saldo dan melakukan berbagai jenis pembayaran, seperti Paypal, Gopay, OVO, Alipay, Shopeepay dan lain sebagainya.

Tata cara transaksi digital menggunakan mobile banking maupun aplikasi uang digital yang dibuat oleh istitusi/perusahaan pada dasarnya tidak mengubah sifat uang yang digunakan, karena nilai yang digunakan adalah berdasarkan backup saldo uang fiat yang disetorkan.


Bitcoin

Inti dari desain Bitcoin adalah prinsip desentralisasi. Berbeda dengan uang fiat yang dikendalikan oleh bank sentral sebagai pemegang otoritas terpusat, Satoshi Nakamoto entitas yang diidentifikasi sebagai pengambang bitcoin, membayangkan mata uang yang bebas dari otoritas pusat, di mana konsensus di antara peserta jaringan memastikan integritas dan kepercayaan. Visi desentralisasi ini tidak hanya teknis tetapi juga filosofis, menantang sistem keuangan tradisional (sitem uang fiat) dan menganjurkan otonomi keuangan yang lebih besar.

Bitcoin dikembangkan sejak tahun 2008 dan dirilis pertama kali pada tahun 2009, memanfaatkan jaringan peer-to-peer (P2P) yang memfasilitasi pencatatan dan transfer uang tanpa hambatan melalui Internet, bebas dari otoritas pusat atau kendali pihak ketiga. Dan untuk sistem keamanannya diintegrasikan dengan teknik kriptografi tertentu yang diyakini sangat kuat. Sistem ini kemudian dikenal dengana sebutan cryptocurrency.

Kelahiran bitcoin kemudian memunculkan pro-kontra dengan pandangannya masing-masing. Keberadaannya yang dimanfaatkan sebagai alat pembayaran oleh pelaku tindakan kriminal juga sempat memperburuk citra bitcoin. Namun demikian, adopsi bitcoin hingga saat ini terus meningkat. Meskipun  secara umum bebagai pihak menilai bitcoin sebagai aset digital, negara seperti El Savador dan Afrika Tengah sudah menerapkan bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di negaranya.

Seiring dengan waktu, nilai bitcoin yang awalnya tidak berharga, kini menjadi sangat tinggi. Hal tersebut sepertinya menginspirasi pihak lain untuk mengikuti jejak bitcoin dengan menciptakan criptocurrency lain dan mengedarkannya ke masyakat.

Meskipun mungkin secara teknis saat ini banyak pihak bisa membuat cryptocurrency, namun belum tentu disain prinsipnya sama dengan bitcoin. Bahkan bukan tidak mungkin ada intensi atau misi tertentu dari penciptanya yang tidak disampaikan secara terbuka.


Masa Depan Uang

Cryptocurrency semakin hari, semakin dikenal oleh masyarakat luas. Bitcoin, sebagai cryptocurrency paling dikenal dan lair pertama kali, walaupun baru sebagian kecil negara di dunia yang secara resmi melegalkan bitcoin sebagai alat pebayaran (legal tender), namun negara besar dunia termasuk Amerika memiliki rencana untuk menyimpannya sebagai aset negara. 

Wacana Central Bank Digital Currency (CBDC), yaitu  uang digital yang diterbitkan dan peredarannya dikontrol oleh bank sentral, dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah untuk menggantikan uang kartal muncul akhir-akhir ini.

Satu hal yang pasti digitalisasi keuangan dan teknologi cryptocurrency merupakan hal yang tidak dapat dihindari di masa yang akan datang. Keinginan akan transaksi yang lebih efisien dan cepat, akan menghadirkan inovasi dan perubahan perilaku masyarakat. Dengan Teknologi akan semakin maju mendorong digitalisasi sistem pembayaran untuk terus berkembang.

Negara dan bank sentral memiliki peran penting dalam mengelola kebijakan moneter dan sistem keuangan di era digital ini. 


Sumber:

  • LindungiHutan - Uang Adalah: Pengertian Menurut Para Ahli, Sejarah, Fungsi dan Jenis-jenisnya (2022) https://lindungihutan.com/blog/penjelasan-lengkap-mengenai-uang/
  • Kompas - Sejarah Bank Sentral di Dunia https://www.kompas.com/stori/read/2022/01/13/090000679/sejarah-bank-sentral-di-dunia
  • Binus - Standar Emas dan Penciptaan Sistem Keuangan https://accounting.binus.ac.id/2021/11/09/standar-emas-dan-penciptaan-sistem-keuangan/
  • Tempo - Mengapa Dolar AS Menjadi Patokan Mata Uang Dunia https://www.tempo.co/internasional/mengapa-dolar-as-menjadi-patokan-mata-uang-dunia--1175849
  • Coinvestasi - 7 Fakta Bitcoin dari Sudut Pandang Satoshi Nakamoto https://coinvestasi.com/berita/bitcoin-dari-sudut-pandang-satoshi-nakamoto
  • Lipitan 6 - Daftar Negara yang Pakai Bitcoin Jadi Alat Pembayaran Sah https://www.liputan6.com/crypto/read/5812777/daftar-negara-yang-pakai-bitcoin-jadi-alat-pembayaran-sah?page=3












Share:

Hati Hati Dividen Trap!

Dividen trap adalah "jebakan" yang dapat terjadi pada investor saham yang tergiur oleh pembayaran dividen yang tinggi, namun harga saham justru turun lebih dari nilai dividen yang diterima setelah tanggal cum-date. Kondisi ini membuat investor mengalami kerugian karena harga saham yang dibeli menjelang pembagian dividen (cum-date) lebih tinggi dari harga saham setelah tanggal ex-date (hari di mana investor tidak lagi berhak menerima dividen) yang menyebabkan para pemilik saham terjebak dan pada akhirnya merugi.

Banyak investor yang terperangkap dalam kondisi jebakan dividen karena terlalu fokus pada dividend yield dengan nominal tinggi. Begitu menemukan emiten dengan penawaran besaran dividen yang besar langsung saja mengambil keputusan beli dan tidak melakukan analisis lain. Namun harus dipahami, bahwa sudah menjadi "kebiasaan" setelah  tanggal ex-date tidak sedikit investor yang ingin menjual sahamnya, karena merasa sudah mendapat keuntungan dividen yang diinginkan. Ketika hal tersebut terjadi secara kumulatif, tentu nilai penawaran jual akan semakin rendah sehingga harga sahamnya serta merta menjadi jatuh turun secara signifikan.

Share:
Bitcoin Logo Bitcoin (BTC)
Sedang memuat...
Harga IDR Real-time via CoinGecko

Recent Posts

Popular Post

Support Us

Disclaimer #EdukasiBitcoin

Informasi yang disampaikan dalam blog ini bukan rekomendasi keuangan atau investasi. Kami sarankan kepada Anda untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, seluruh transaksi pembayaran resmi di wilayah Indonesia wajib menggunakan mata uang Rupiah.