Belajar, Sharing Informasi & Opini Tentang Bitcoin
Don't Trust, Verify #Disclaimer is always ON
Bukan Rekomendasi Investasi/Keuangan #DYOR

Mengapa Bitcoin Tidak Bisa Diblokir


Kasus pemblokiran rekening tabungan pribadi dan dana donasi sebesar Rp80,9 juta milik Supriyono (Botok), aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), oleh Bank Mandiri atas permintaan aparat penegak hukum menjadi bukti nyata lemah posisi seseorang dalam sistem keuangan sentral. Ketika dana dalam rekening yang dialokasikan untuk operasional aksi demonstrasi tiba-tiba diblokir secara sepihak, timbul pertanyaan mendasar: Apakah uang di bank benar-benar milik kita?

Di dalam sistem perbankan konvensinal, nasabah pada hakikatnya menyerahkan kontrol penuh atas aset mereka kepada pihak ketiga (bank dan regulator). Hal ini berbeda secara fundamental dengan jaringan bitcoin yang beroperasi di atas jaringan peer-to-peer terdesentralisasi tanpa perantara.

Mengapa Bitcoin tidak bisa diblokir? Berikut adalah penjelasannya!

Di dalam sistem perbankan tradisional, uang Anda pada dasarnya adalah "janji bayar" dari bank. Bank bertindak sebagai penjaga gerbang (gatekeeper) yang mencatat saldo, memverifikasi transaksi, dan memiliki wewenang penuh untuk membatasi akses atas perintah otoritas. Ketika sebuah rekening diblokir, pemerintah atau lembaga keuangan cukup mengirimkan instruksi formal ke satu lembaga penanggung jawab, dan dalam hitungan detik akses finansial seseorang bisa terputus total.

Bitcoin berjalan dalam sistem di mana uang tidak disimpan di dalam brankas perusahaan, melainkan tersebar dalam bentuk catatan digital di puluhan ribu komputer (node) yang terhubung di seluruh penjuru dunia. Komputer-komputer ini bekerja secara independen tanpa ada kantor pusat, direktur utama, atau pemerintah yang mengendalikannya. Inilah gambaran dasar dari jaringan Bitcoin, sebuah arsitektur teknologi yang dirancang secara fundamental agar tahan terhadap sensor, pembekuan, maupun pemblokiran sepihak. Bitcoin menghapus peran penjaga gerbang tersebut melalui dua pilar utama: desentralisasi jaringan dan kriptografi kunci privat.

Pertama, dari segi jaringan, tidak ada single point of failure (satu titik lemah) dalam Bitcoin. Jika sebuah negara melarang Bitcoin atau mematikan seluruh komputer pengelola Bitcoin di wilayahnya, jaringan global tidak akan berhenti beroperasi. Puluhan ribu node lain di berbagai negara akan terus berjalan, mencatat, dan memvalidasi transaksi secara otomatis. Untuk memblokir transaksi Bitcoin secara total, maka harus mematikan seluruh jaringan internet global secara bersamaan, sebuah skenario yang secara mustahil dilakukan.

Kedua, dari segi kepemilikan, saat Anda menyimpan Bitcoin di dompet pribadi (self-custody wallet), Anda memegang sebuah private key, semacam kata sandi rahasia yang terdiri dari deretan karakter unik. Tidak ada presiden, hakim, peretas, atau bankir mana pun yang dapat menyita atau memindahkan Bitcoin Anda. Sistem tidak mengenali siapa nama Anda, apa posisi politik Anda, atau di mana Anda tinggal; hanya dengan private key tersebut transaksi bisa dilakukan.

Ketika seseorang mengirimkan Bitcoin, transaksi tersebut disiarkan ke seluruh dunia. Node-node independen hanya akan memeriksa satu hal: apakah saldo pengirim cukup dan apakah tanda tangan digitalnya cocok. Jika ya, transaksi tersebut akan dicatat secara permanen ke dalam blockchain, buku kas besar yang tidak dapat diubah atau dihapus oleh siapa pun. Tidak ada mekanisme "pembatalan" atau "tombol pause" yang bisa ditekan oleh pihak luar untuk mengintervensi proses ini.

Sifat Bitcoin yang tidak bisa diblokir bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil karya arsitektur perangkat lunak yang menggantikan kepercayaan pada manusia dengan kepastian hukum matematika dalam sebuah protokol. Selama internet masih menyala dan pemiliknya menjaga private key dengan aman, Bitcoin akan tetap menjadi jalur transaksi yang sepenuhnya bebas dari intervensi pihak ketiga.

Kasus yang menimpa aktivis Pati menegaskan bahwa sistem perbankan tradisional selalu menyisakan celah intervensi luar. Bitcoin hadir bukan sekadar sebagai instrumen investasi, melainkan sebagai alternatif teknologi yang menawarkan kedaulatan finansial mutlak dan ketahanan terhadap pembatasan sepihak.

Share:

Apa Itu Bitcoin Halving dan Mengapa Hal Ini Mempengaruhi Kelangkaan?

Dalam jaringan bitcoin, ada salah satu peristiwa penting yang sangat berpengaruh pada ketersedian Bitcoin dari waktu ke waktu, peristiwa tersebut dikenal dengan Bitcoin Halving. Apa sebenarnya Bitcoin Halving itu, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa fenomena ini menjadi kunci utama dari kelangkaan Bitcoin? Mari kita bedah secara mendalam.

Dari sudut pandang uang fiat (seperti Rupiah atau Dolar), Bitcoin Halving adalah suatu kebijakan dalam menerbitkan uang baru yang beredar. Jika uang fiat bisa dicetakoleh Bank Sentral, terus bertambah tanpa ada batasan, halving yang diatur secara matematis dalam protokol bitcoin, justru membuat laju pencetakan Bitcoin semakin melambat.

1. Apa Itu Bitcoin Halving?

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul "Dari Mana Bitcoin Berasal? (Bitcoin Minning Explained)", sudah dijelaskan bahwa penerbitan Bitcoin baru dicetak oleh sistem sebagai imbalan (reward) yang diberikan oleh sistem kepada penambang yang berhasil menebak "kode" tepat untuk memvalidasi catatan blok transaksi.

Sebagaimana dijelaskan dalam White Paper Bitcoin, Satoshi Nakamoto telah merancang protokol bitcoin agar imbalan tersebut berkurang separuhnya setiap 210.000 blok berhasil divalidasi. Dimana tingkat kesulitan telah diatur sedemikian rupa dalam protokol bitcoin, sehingga rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menebak "kode" validasi blok adalah setiap 10 menit sekali. Secara rata-rata pengurangan imbalan tersebut diperkirakan akan terjadi setiap sekitar 4 tahun sekali.

Bitcoin Halving adalah peristiwa ketika di mana imbalan (block reward) yang diterima oleh para penambang (miners) yang berhasil memecahkan “kode” validasi transaksi dipotong setengahnya (50%). 

2. Jejak Historis Halving Bitcoin

Untuk memahami dampaknya, mari kita lihat bagaimana jumlah penerbitan Bitcoin baru terus berkurang sepanjang sejarah:

PeristiwaTahunImbalan /BlokPenerbitan BTC/Hari (Estimasi)
Peluncuran (Genesis)200950 BTC7.200 BTC
Halving Pertama201225 BTC3.600 BTC
Halving Kedua201612,5 BTC1.800 BTC
Halving Ketiga20206,25 BTC900 BTC
Halving Keempat20243,125 BTC450 BTC
Halving Berikutnya~20281,5625 BTC225 BTC

Proses pengurangan separuh ini akan terus berlanjut hingga seluruh 21 juta BTC selesai ditambang, yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2140. Setelah tahun tersebut, tidak ada lagi Bitcoin baru yang diterbitkan.

3. Mengapa Halving Membuat Bitcoin Sangat Langka?

Perilaku dalam dalam ekonomi praktis, pada umumnya ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat, produsen akan menambah pasokan untuk memenuhi permintaan tersebut. Jika harga emas naik, perusahaan tambang akan mengebor lebih dalam untuk memproduksi lebih banyak emas.

Bitcoin berbeda secara fundamental. Sebanyak apa pun daya komputasi atau energi yang digunakan penambang di seluruh dunia, kecepatan penerbitan Bitcoin tidak bisa dipercepat. Protokolnya sudah diatur sedemikian rupa sehingga:

  1. Laju Pasokan Terkontrol: Periode penerbitan Bitcoin baru yang masuk ke pasar sudah pasti dan terukur matematis.

  2. Jumlah Penerbitan Menurun: Setiap 4 tahun, keran penerbitan Bitcoin baru dikurangi hingga setengahnya.

Kelangkaan suatu aset sering diukur dengan rasio Stock-to-Flow (S2F), di mana:

  • Stock: Total pasokan aset yang sudah ada saat ini.

  • Flow: Jumlah penerbitan aset baru per tahun.

Semakin tinggi rasio S2F, semakin langka aset tersebut. Sebelum Halving 2024, tingkat inflasi tahunan Bitcoin berada di kisaran ~1,7%. Setelah Halving 2024, tingkat inflasinya turun menjadi ~0,85%—menjadikan laju penerbitan Bitcoin lebih langka daripada emas fisik.

4. Hubungan Halving dengan Hukum Permintaan dan Penawaran

Mengapa harga Bitcoin cenderung mengalami kenaikan signifikan dalam kurun waktu 12–18 bulan setelah Halving? Jawabannya terletak pada hukum dasar ekonomi: Permintaan dan Penawaran (Supply and Demand).

Ketika imbalan penambang dipotong setengahnya, jumlah Bitcoin baru yang siap dijual oleh para penambang di pasar berkurang drastis. Jika tingkat permintaan publik terhadap Bitcoin tetap sama, atau bahkan meningkat, ketidakseimbangan antara pasokan baru yang sedikit dan permintaan yang ada secara alami mendorong harga ke atas.

5. Dampak Halving Bagi Penambang dan Ekosistem

Peristiwa Halving juga membawa tantangan teknis dan ekonomi bagi para pelaku jaringan:

  1. Ujian Efisiensi Penambang: Karena imbalan mereka terpotong 50%, penambang yang menggunakan mesin tua atau energi listrik mahal berisiko mengalami kerugian dan terpaksa gulung tikar. Hanya penambang paling efisien yang sanggup bertahan.

  2. Pergeseran ke Biaya Transaksi (Transaction Fees): Seiring berkurangnya imbalan blok hingga mendekati nol pada masa depan, penambang akan semakin bergantung pada biaya transaksi yang dibayarkan pengguna untuk menjaga keamanan jaringan.

  3. Penyandaran Keamanan Jaringan: Meskipun imbalan BTC berkurang, jika nilai tukar BTC naik seiring waktu, insentif finansial bagi penambang untuk menjaga keamanan jaringan tetap sangat tinggi.

Tidak seperti mata uang fiat (Rupiah, Dolar, Euro) yang pasokannya dapat dicetak tanpa batas oleh bank sentral dan mengikis daya beli Anda dari waktu ke waktu, Bitcoin dirancang dengan mekanisme anti-inflasi (disinflationary).



Share:

Nabung Bitcoin Eps. 008 dan News Update: Coldcard Dibobol Hacker

Nabung Bitcoin Episode 008

Modal (dibulatkan)

Rp. 8.000.000 (100,00%)

Nilai Tabungan Bitcoin

Rp. 7.359.632 (92,00%)


Posisi untung/rugi (+/-)

(-) Rp 615.570

(-) 7,72%


"Bear market" sepertinya masih terus menghantui Bitcoin, di tengah harga yang masih berada pada kisaran 50% di bawah ATH (All Time High) -nya, berita buruk terus menghantui pemegang Bitcoin. Kali ini berita buruk itu datang dari Coldcard, dompet kripto fisik (hardware wallet) khusus Bitcoin yang sangat populer buatan perusahaan Kanada, Coinkite.

Coldcard Dibobol, Hacker Gondol 1.367 Bitcoin Bernilai Triliunan Rupiah

Dompet ini terkenal dengan desain air-gapped yang sangat aman (beroperasi sepenuhnya luring tanpa koneksi USB atau Bluetooth ke komputer), menjadikannya pilihan utama bagi pengguna Bitcoin tingkat lanjut.Namun, saat ini COLDCARD sedang mengalami krisis keamanan besar, di mana peretas berhasil mencuri sekitar $89 juta dalam bentuk Bitcoin (1.367+ BTC) dari lebih dari 4.500 alamat dompet, dimana serangan terjadi pada akhir Juli 2026.

Para peneliti keamanan menemukan adanya kesalahan pengodean (coding error) pada firmware yang berakar sejak Maret 2021, yang merusak sistem pembuat keacakan angka (entropy) pada perangkat.Celah Keamanan: 

  • Perangkat yang terdampak tidak menggunakan generator angka acak perangkat keras yang aman, melainkan beralih ke generator perangkat lunak pseudo-acak yang mudah ditebak saat membuat dompet baru.
  • Dampaknya: Karena keacakannya sangat lemah, peretas dapat menebak dan menyusun kembali kata sandi rahasia (seed phrase) secara luring tanpa perlu memegang fisik perangkat Anda.
  • Perangkat Terdampak: Terutama model Coldcard MK3 yang menjalankan firmware versi 4.0.1 hingga 5.0.3.

Mayoritas dompet yang terdampak adalah single-signature dan telah dormant selama bertahun-tahun.

Coinkite (pembuat Coldcard) telah merilis advisory resmi dan update firmware. Pengguna disarankan segera memeriksa firmware perangkat, memindahkan dana ke seed baru yang dihasilkan di firmware yang telah diperbaiki, serta selalu verifikasi alamat tujuan saat transfer.

Kasus ini mengingatkan kita bahwa tidak ada sistem yang 100% kebal. Bahkan hardware wallet sekalipun memerlukan pemahaman teknis, update rutin, dan praktik keamanan terbaik: gunakan passphrase, buat seed baru di lingkungan offline yang aman, dan diversifikasi penyimpanan aset.

Bagi holder Bitcoin, momen ini menjadi pengingat untuk terus belajar dan tidak menganggap remeh aspek keamanan. Selalu cross-check informasi dari sumber resmi dan lakukan riset mandiri (DYOR).



Share:
Bitcoin Logo Bitcoin (BTC)
Sedang memuat...
Harga IDR Real-time via CoinGecko

Recent Posts

Popular Post

Support Us

Disclaimer #EdukasiBitcoin

Informasi yang disampaikan dalam blog ini bukan rekomendasi keuangan atau investasi. Kami sarankan kepada Anda untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, seluruh transaksi pembayaran resmi di wilayah Indonesia wajib menggunakan mata uang Rupiah.