Sharing Informasi & Opini Tentang Bitcoin

Istilah-Istilah Bitcoin & Kripto yang Perlu Diketahui Pemula

Mempelajari Bitcoin seringkali terasa seperti belajar bahasa baru. Dunia "Crypto" penuh dengan jargon teknis, istilah finansial, hingga slang unik yang lahir dari komunitasnya. Berikut adalah daftar istilah Bitcoin yang disusun secara sistematis untuk membantu Anda memahami ekosistem ini dari dasar hingga tingkat lanjut.


1. Airdrop

Airdrop adalah proses distribusi aset kripto secara gratis kepada pengguna sebagai bagian dari promosi proyek baru. Biasanya, pengguna harus menyelesaikan tugas tertentu seperti mengikuti media sosial atau mendaftar di platform terkait.


2. Altcoin

Altcoin adalah semua aset kripto selain Bitcoin. Contohnya Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan Cardano (ADA).


3. ATH (All-Time High)

ATH atau All Time High adalah harga tertinggi yang pernah dicapai oleh suatu aset (kripto, saham, emas, dll)  sepanjang sejarahnya. Biasanya, ketika harga mencapai ATH, terjadi peningkatan volume perdagangan yang signifikan.


4. ATL (All-Time Low)

Kebalikan dari ATH, ATL adalah harga terendah yang pernah dicapai suatu aset sejak pertama kali diluncurkan di pasar.


5. Bag Holder

Bag Holder adalah investor yang tetap memegang aset kripto meskipun harganya turun drastis. Biasanya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan orang yang mengalami kerugian besar karena tidak menjual lebih awal.


6. Bear Market

Bear market adalah kondisi pasar di mana harga aset kripto mengalami tren turun dalam jangka waktu lama. Biasanya, periode ini ditandai dengan sentimen negatif dan kepanikan investor.


7. Bitcoin (BTC)

Bitcoin adalah aset kripto pertama yang diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009.


8. Block

Block adalah unit penyimpanan dalam blockchain yang berisi kumpulan transaksi yang telah diverifikasi.


9. Blockchain

Blockchain adalah teknologi yang digunakan dalam aset kripto untuk mencatat transaksi secara transparan, aman, dan terdesentralisasi.


10. Bull Market

Bull market adalah kondisi pasar ketika harga aset kripto cenderung naik dalam waktu lama, didorong oleh sentimen positif dan peningkatan permintaan.


11. CBDC

CBDC (Central Bank Digital Currency) adalah mata uang digital yang diterbitkan dan diregulasi oleh bank sentral suatu negara.


12. Custodial

Custodial (kustodian) adalah layanan di mana pihak ketiga (seperti exchange) dipercayakan untuk memegang dan menjalankan transaksi aset Anda.


13. Non Custodian

Non Custodial adalah tindakan mengambil kendali penuh atas kepemilikan aset. Misalnya aset kripto dengan memegang private key (kunci pribadi) berupa seed phrase, tanpa perantara pihak ketiga seperti bursa (exchange), yang menganut prinsip desentralisasi dan keamanan mandiri.


14. DeFi (Decentralized Finance)

DeFi adalah ekosistem layanan keuangan yang berjalan di atas blockchain tanpa perantara seperti bank atau institusi keuangan tradisional.


15. Dapp (Decentralized Application)

Dapp adalah aplikasi berbasis blockchain yang berjalan tanpa otoritas pusat, seperti Uniswap dan Aave.


16. Digital Currency

Digital Currency adalah mata uang yang hanya tersedia dalam bentuk digital atau elektronik, tidak ada bentuk fisik.


17. Decentralization

Decentralization adalah sistem tanpa otoritas pusat.


18. DYOR (Do Your Own Research)

DYOR adalah prinsip yang menyarankan setiap investor untuk melakukan riset sendiri sebelum memutuskan berinvestasi agar tidak mengalami kerugian akibat salah prediksi maupun akibat penipuan/scam.


19. ERC-20

ERC-20 adalah standar teknis untuk token yang dibuat di jaringan Ethereum. Standar ini memastikan kompatibilitas antara berbagai token di ekosistem Ethereum.


20. ERC-721

ERC-721 adalah standar untuk Non-Fungible Token (NFT), yang digunakan untuk menciptakan aset digital unik.


21. Exchange Kripto

Exchange kripto adalah platform yang memungkinkan pengguna membeli, menjual, dan memperdagangkan aset kripto. Contoh exchange adalah Indodax, Pintu, Reku, Triv, dll.


22. Fiat

Fiat adalah mata uang konvensional yang diterbitkan oleh bank sentral / pemerintah (seperti Rupiah atau Dollar)


23. FOMO (Fear of Missing Out)

FOMO adalah ketakutan ketinggalan peluang investasi, yang sering membuat investor terburu-buru membeli aset tanpa analisis yang matang.


24. Hard Fork

 Hard fork merupakan modifikasi dalam protokol aset kripto yang tidak selaras dengan versi sebelumnya. Ini berarti bahwa node yang tidak diperbarui ke versi baru tidak akan dapat memproses transaksi atau menambahkan blok baru ke blockchain. Hal itu juga bisa dianggap sebagai peristiwa ketika tim pengembangan aset kripto setuju untuk menerapkan fitur atau perubahan baru pada sistem pemrograman koin.


25. Soft Fork

 Soft fork adalah perubahan dalam protokol aset kripto yang memperkenalkan sistem baru, tetapi juga tetap kompatibel dengan sistem sebelumnya selama tidak melanggar aturan protokol baru.


26. Fork

Fork (garpu/becabang) adalah peristiwa perpecahan ekosistem blockchain karena munculnya prinsip pengaturan yang berbeda dalam omunitas, yang mengakibatkan terbentuknya dua jaringan berbeda, contohnya Bitcoin dan Bitcoin Cash.


27. FUD (Fear, Uncertainty, Doubt)

FUD adalah penyebaran ketakutan, ketidakpastian, dan keraguan yang bisa mempengaruhi harga aset secara negatif.


28. Gas Fee

Gas Fee adalah biaya transaksi yang harus dibayarkan dalam jaringan blockchain.


29. Halving

Halving adalah proses pengurangan hadiah mining Bitcoin, terjadi sekitar setiap empat tahun.


30. HODL

HODL adalah strategi investasi di mana seseorang menyimpan aset kripto dalam jangka panjang tanpa menjualnya.


31. ICO (Initial Coin Offering)

ICO adalah metode penggalangan dana dengan menjual token baru kepada investor sebelum proyek diluncurkan.


32. IDO (Initial DEX Offering)

IDO adalah peluncuran token melalui platform Decentralized Exchange (DEX), biasanya tanpa perantara.


33. Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum, yang menyebabkan nilai uang menurun dan daya beli masyarakat melemah, sehingga jumlah uang yang sama membeli barang lebih sedikit dibanding sebelumnya. 


34. Deflasi

Deflasi adalah kebalikan dari inflasi, yaitu meningkatnya daya beli uang dengan indikasi penurunan harga barang dan jasa secara umum. 


35. KYC (Know Your Customer)

KYC adalah proses verifikasi identitas pengguna yang dilakukan oleh exchange untuk memenuhi regulasi.


36. Layer 1

Layer 1 adalah blockchain utama seperti Bitcoin dan Ethereum.


37. Layer 2

Layer 2 adalah solusi yang dibangun di atas blockchain utama untuk meningkatkan efisiensi, seperti Lightning Network untuk Bitcoin.


38. Liquidity Pool

Liquidity Pool adalah kumpulan dana yang digunakan dalam platform DeFi untuk perdagangan aset kripto.


39. Lightning Network

Lightning Network adalah solusi jaringan Layer 2 yang memungkinkan transaksi Bitcoin lebih cepat dan murah.


40. Market Cap (Kapitalisasi Pasar)

Market Cap adalah total nilai aset kripto yang beredar di pasar.


41. Mining

Mining (menambang) adalah usaha mendapatkan Bitcoin menggunakan komputer dan aplikasi pendukungnya untuk memecahkan algoritma kompleks dari suatu jaringan mata uang kripto, yaitu menjadi yang pertama untuk memvalidasi transaksi blockchain.


42. Node

Node adalah komputer yang berpartisipasi dalam jaringan blockchain untuk memverifikasi transaksi.


43. NFT (Non-Fungible Token)

NFT adalah aset digital unik yang tidak dapat ditukar dengan NFT lain, sering digunakan untuk seni digital, koleksi, dan game.


44. Oracles

Oracles adalah sistem yang menghubungkan blockchain dengan data dunia nyata.


45. Peer-to-Peer (P2P)

P2P adalah sistem transaksi langsung antar pengguna tanpa perantara.


46. Paper Wallet

Paper Wallet adalah dompet kripto dalam bentuk kertas yang berisi private key dan public key.


47. Private Key

Private Key adalah kode rahasia yang digunakan untuk mengakses dan mengelola aset kripto.


48. Proof of Work (PoW)

PoW adalah mekanisme konsensus yang digunakan dalam Bitcoin untuk validasi transaksi.


49. Proof of Stake (PoS)

PoS adalah mekanisme konsensus yang lebih hemat energi dibanding PoW, digunakan oleh Ethereum 2.0.


50. Rekt

Rekt adalah istilah slang yang berarti mengalami kerugian besar dalam perdagangan kripto.


51. Rug Pull

Rug Pull adalah skema penipuan di mana pengembang proyek mata usng kripto tiba-tiba menarik dana investor dan meninggalkan proyek.


52. Satoshi Nakamoto

Satoshi Nakamoto adalah entitas pencipta Bitcoin, yang sampai saat ini tidak ketahui siapa dan di mana keberadaannya.


53. Satoshi (SAT)

Satoshi adalah unit terkecil Bitcoin, setara dengan 0.00000001 BTC.


54. Scam Token

Scam Token adalah istilah untuk aset kripto yang dibuat untuk menipu investor.


55. Seed Phrase (Recovery Phrase)

Seed Phrase adalah deretan 12-24 kata acak yang berfungsi sebagai kunci pribadi untuk mengakses atau memulihkan dompet Anda.


56. Smart Contract

Smart Contract adalah kontrak digital yang dieksekusi secara otomatis sesuai dengan kode pemrograman.


57. Stablecoin

Stablecoin adalah aset kripto yang nilainya dipatok pada aset tertentu, misalnya USDT dan USDC yang dipatok dengan mata uang fiat USD.


58. Staking

Staking adalah proses mengunci aset kripto untuk mendapatkan imbalan.


59. To the Moon

To the Moon (ke bulan) adalah keyakinan bahwa harga aset akan naik sangat tinggi.


60. Tokenomics

Tokenomics adalah struktur ekonomi dari suatu token, termasuk distribusi dan mekanisme insentifnya.


61. Wallet

Wallet adalah dompet digital yang digunakan untuk menyimpan dan mengelola aset kripto.


62. Cold Wallet

Cold Wallet adalah dompet kripto yang tidak terhubung ke internet (paling aman dari peretasan).


63. Hot Wallet

Hot Wallet adalah dompet kripto yang selalu terhubung ke internet (mudah digunakan tapi risiko peretasan lebih tinggi dari pada Cold Wallet).


64. Whale

Whale (ikan paus) adalah individu/institusi yang memiliki jumlah besar aset kripto dan bisa mempengaruhi pasar.


65. Yield Farming

Yield Farming adalah strategi DeFi untuk mendapatkan keuntungan dengan menyediakan likuiditas di platform tertentu.


Share:

Bitcoin Itu "Uang" atau Bukan Sih ?

Penyematan gelar Bitcoin sebagai "uang" secara tegas dituangkan dalam judul White Paper yang diedarkan oleh pembuatnya, Satoshi Nakamoto yaitu "Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System".  Namun hingga kini diketahui, baru hanya satu negara, yaitu El Salvador, yang secara legal mendeklarasikan untuk menggunakan  Bitcoin sebagai alat pembayaran. Meskipun dibeberapa tempat di benua Afrika dan sejumlah kawasan khusus dapat ditemui penggunaan Bitcoin, akan tetapi belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah atau lembaga negaranya.
Oleh karena itu, tentunya menjadi pembahasan yang amat menarik untuk menjawab pertanyaan "Apakah Bitcoin benar-benar dapat dikategorikan sebagai uang?". 

Analisa Kriteria Uang Secara Ekonomi Terhadap Bitcoin 

Secara tradisional, ilmu ekonomi klasik menetapkan tiga hingga empat kriteria utama agar sesuatu dapat dianggap sebagai uang, berikut adalah analisis apakah Bitcoin saat ini memenuhi kriteria tersebut:

1. Sebagai Alat Tukar (Medium of Exchange)
Uang harus dapat digunakan secara luas untuk membeli barang atau jasa.

Saat ini Bitcoin sudah bisa digunakan sebagai alat tukar, namun adopsinya masih terbatas. Bagi pihak-pihak yang mempercayai bahwa Bitcoin adalah "uang masa depan" mereka bersedia untuk menerima Bitcoin sebagai alat tukar. Namun bagi kebanyakan orang, masih enggan menerimanya. Bahkan hal tersebut juga terjadi di El Salvador, negara yang secara hukum melegalkan transaksi jual-beli dengan Bitcoin.
Beberapa alasan belum digunakannya Bitcoin sebagai alat pembayaran diantaranya, pertama karena memang belum mengenal Bitcoin, belum tahu cara menggunakannya, fluktuasi nilai yang tinggi, hingga merasa kesulitan untuk menukarkannya ketika membutuhkan uang fiat. Jadi untuk saat ini fungsi Bitcoin sebagai alat tukar baru bisa diterima dalam skala kecil oleh kalangan tertentu saja.

2. Sebagai Satuan Hitung (Unit of Account)
Uang harus menjadi standar ukuran untuk menetapkan harga barang atau jasa.

Saat ini mungkin kita bisa menemukan sebuah gerai yang menerima Bitcoin, namun bisa dipastikan belum ada yang berjualan dengan harga yang dipatok secara tetap dalam satuan BTC atau Sats (Satoshi). Ini karena harga atau nilai Bitcoin saat ini yang sangat fluktuatif terhadap mata uang fiat (seperti Rupiah atau Dollar). Oleh karena itu pedagang biasanya tetap mematok harga dalam fiat lalu mengonversinya ke jumlah Bitcoin untuk transaksi pembayaran. Jadi untuk saat ini fungsi Bitcoin sebagai alat hitung bisa dikatakan belum terpenuhi.

3. Sebagai Penimpan Nilai (Store of Value)
Uang harus mampu mempertahankan daya belinya dalam jangka waktu yang lama.

Ini adalah poin yang sering diperdebatkan. Pendukungnya menyebut Bitcoin sebagai "Emas Digital", dengan dalih jumlahnya yang terbatas hanya akan ada 21 juta saja, yang dianggap sebagai "jurus sakti" Bitcoin untuk tidak akan terjadi inflasi, bahkan nilainya cenderung terus meningkat (deflasi).
Histori jangka panjang Bitcoin memang menunjukkan, bahwa Bitcoin yang asalnya dari tidak mempunyai nilai, hingga saat ini terus naik hingga miliaran rupiah. Namun kenyataan saat ini, volatilitas harga yang terjadi sangat ekstrem, bisa turun atau naik lebih dari 10% dalam sehari, membuat Bitcoin dianggap berisiko sebagai penyimpan nilai jangka pendek. Sehingga secara teoritis, melihat data jangka panjang, sifat ini terpenuhi, namun gagal secara praktis atau jangka pendek.

Pandangan Bitcoin Berdasarkan Hukum dan Teori

Menurut Carl Menger pendiri Austrian School of Economics (1840 – 1921), sesuatu menjadi uang melalui proses pasar karena tingkat salability (kemudahan dijual) yang tinggi. Bitcoin memiliki likuiditas yang sangat tinggi "di bursa global", ini bisa jadi cikal-bakal tumbuhnya likuiditas di tengah masyarakat secara umum, sehingga mendukung argumennya sebagai bentuk uang baru yang muncul secara organik (tanpa harus ada "jaminan" fungsi moneter dari otoritas/pemerintah).

Namun demikian perlu dipahami bahwa uang yang kita yang kita gunakan, didefinisikan secara hukum oleh negara. Kecuali di negara seperti El Salvador yang telah menetapkan Bitcoin sebagai alat pembayaran sah, di sebagian besar negara lain (termasuk Indonesia melalui UU Mata Uang), Bitcoin tidak memenuhi kriteria hukum sebagai uang karena bukan merupakan Rupiah. Sebagian besar Bank Sentral (termasuk Bank Indonesia) dan IMF "hanya" mengategorikan Bitcoin sebagai Aset Kripto atau komoditas, bukan uang sah (legal tender).

Masa Depan Bitcoin

Dari penjelasan singkat tersebut dapat diambil kesimpulan "sementara" bahwa secara teknis (portabilitas, divisibilitas, durabilitas, dan kelangkaan) dan teknologi , Bitcoin memiliki karakteristik uang. Namun, secara fungsional ekonomi, Bitcoin saat ini lebih berperan sebagai aset investasi atau spekulasi daripada uang fungsional harian karena volatilitasnya yang tinggi sehingga belum bisa diimplementasikannya sebagai satuan hitung yang stabil.

Di tengah adopsi Bitcoin terus semakin luas, karakteristik Bitcoin yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai uang. Namun masa depan Bitcoin sebagai uang masih butuh waktu untuk membuktikannya.


Disclaimer: Artikel ini adalah edukasi teknologi, bukan ajakan investasi atau penggunaan sebagai alat pembayaran. Legalitas uang sebagai alat pembayaran jual beli bisa berbeda beda ditiap-tiap negara, termasuk di Indonesia dan menjadi kewajiban warga negara untuk mematuhinya.

Share:

6 Film Dokumenter Bagi Yang Ingin Memahami Bitcoin

Mendengar istilah teknis ketika ingin memahami Bitcoin, seperti blockchain, mining, hingga decentralization, bisa terasa sangat membingungkan, apalagi bagi orang awam. Namun demikian ada cara alternatif bagi orang awam untuk memahaminya, yaitu melalui film-film dokumenter yang saat ini sudah beredar. Film-film tersebut umumnya dibuat oleh komunitas, dan dapat dengan mudah di akses melalui platform film online seperti Youtube secara bebas.

Berikut adalah beberapa film dokumenter yang bisa membantu memahami konsep, filosofi, sejarah, hingga potensi masa depan Bitcoin tanpa harus pusing membaca kode pemrograman.

1. Banking on Bitcoin (2016)

Sejarah awal dan ideologi : Jika Anda baru memulai, film ini adalah "pintu masuk" yang paling tepat. Banking on Bitcoin membahas bagaimana Bitcoin lahir dari krisis finansial 2008 sebagai alternatif sistem perbankan tradisional. Film ini menampilkan wawancara dengan para pionir (early adopters) dan menjelaskan konflik antara teknologi baru ini dengan regulasi pemerintah serta bank sentral. Anda akan memahami mengapa Bitcoin disebut sebagai "poeple's money".

2. The Rise and Rise of Bitcoin (2014)

Komunitas dan pertumbuhan awal : Melalui mata seorang pemrogram komputer yang hobi menambang Bitcoin, film ini menangkap antusiasme luar biasa di masa-masa awal. Anda akan melihat bagaimana Bitcoin berubah dari sekadar proyek eksperimental menjadi fenomena global. Film ini sangat ramah pemula karena menghindari jargon teknis yang berat. Ini adalah "mesin waktu" yang memperlihatkan bagaimana orang-orang percaya pada nilai Bitcoin saat harganya masih sangat murah.

3. Cryptopia: Bitcoin, Blockchains and the Future of the Internet (2020)

Evolusi teknologi dan masa depan Web3. : Dibuat oleh sutradara yang sama dengan dokumenter terkenal Bitcoin: The End of Money as We Know It, film ini menggali lebih dalam. Tidak hanya soal uang, Cryptopia membahas bagaimana teknologi di balik Bitcoin (blockchain) bisa mengubah cara internet bekerja. Film ini memberikan pandangan objektif, termasuk membahas "perang saudara" di dalam komunitas kripto dan tantangan skalabilitas. Sangat cocok bagi Anda yang ingin tahu apa langkah selanjutnya setelah Bitcoin.

4. Trust Machine: The Story of Blockchain (2018)

Teknologi Blockchain secara umum : Meskipun Bitcoin adalah bintang utamanya, film ini lebih fokus pada "mesin" yang menjalankannya, yaitu blockchain. Narasi yang dibawakan oleh Rosario Dawson ini menjelaskan bagaimana teknologi ini bisa digunakan untuk melawan ketidakadilan sosial dan transparansi data. Membantu Anda memahami bahwa nilai Bitcoin bukan hanya pada harganya, melainkan pada teknologi "tanpa kepercayaan" (trustless) yang memungkinkan transaksi aman tanpa perantara.

5. God Bless Bitcoin (2024)

Etika, moralitas, dan dampak sosial : Ini adalah salah satu dokumenter terbaru yang mencoba menjawab pertanyaan: "Apakah Bitcoin itu baik untuk dunia?" Film ini mengulas Bitcoin dari sisi kemanusiaan, inflasi, dan bagaimana ia bisa menjadi alat untuk kebebasan finansial di negara-negara dengan ekonomi yang tidak stabil.

Sangat relevan untuk memahami mengapa Bitcoin sering disebut sebagai "Emas Digital" dan perannya dalam membantu masyarakat yang tidak memiliki akses ke bank (unbanked).

6. Misteri Besar Abad 21 : Bitcoin (2024)

Edukasi komprehensif untuk audiens Indonesia : Dokumenter ini merupakan salah satu karya lokal yang sangat penting untuk memahami Bitcoin dari perspektif yang lebih dekat dengan kita. Film ini mengupas tuntas apa itu Bitcoin, mulai dari sejarah penciptanya yang anonim (Satoshi Nakamoto), hingga bagaimana teknologi ini mulai diterima di Indonesia. Film berbahasa Indonesia, penjelasan mengenai konsep teknis yang rumit menjadi jauh lebih mudah dicerna. Film ini juga menghadirkan narasumber ahli dari dalam negeri yang menjelaskan kaitan Bitcoin dengan kondisi ekonomi dan regulasi di Indonesia. Sangat cocok bagi pemula yang ingin memahami Bitcoin tanpa kendala bahasa.


Share:

Nabung Bitcoin Eps. 001: Mengapa Bitcoin?

Hari ini 3 Januari 2026, Bitcoin tepat memasuki usia 17 tahun. Sesuai artikel blog yang saya tulis pada 16 November 2025 dengan judul "Nabung Bitcoin 1 juta per Bulan, Akankan Menguntungkan?", maka hari ini saya memulai menjalankan rencana yang sudah saya nyatakan, yaitu nabung Bitcoin secara rutin Rp 1.000.000,- per bulan.

Mengapa saya lakukan ini, adalah karena saya terkesan dengan konsep Bitcoin dan teknologi yang digunakannya. Sebagaimana judul yang tertuang dalam White Paper "Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System". Pembuatnya menyodorkan kosep "uang" yang berbeda dari uang yang beredar pada umumnya saat ini. Konsep uang baru yang berjalan dalam suatu Protokol yang tidak bergantung pada negara atau institusi tertentu dalam penerbitan, peredaran maupun transaksi antar penggunanya.

Mengapa baru mulai sekarang? Walaupun kata Bitcoin sudah pernah saya dengar mungkin lebih dari lima tahun yang lalu, jujur saja bahwa baru setahun terakhir ini saya tertarik untuk memahami lebih mendalam tentang Bitcoin. 

Dulu saya sangat skeptis, saya pikir Bitcoin hanyalah program yang dijalankan oleh pihak tertentu, yang bisa "di-utak-atik" oleh pembuatnya untuk keuntungan dan tujuan mereka. Saya kira Bitcoin bisa "dipermainkan" layaknya game, software atau aplikasi oleh developer yang mengembangkannya. Meskipun saat itu saya pernah membaca tentang teknologi Bitcoin, saya belum bisa mempercayainya dan tak ada terbesit sedikitpun untuk mencoba apalagi memilikinya.

Tahun 2025, Bitcoin mencapai harga tertinggi baru, menembus 1,6 miliar lanjut naik 1,7 miliar terus tembus 1,8 miliar dan terus berlanjut mencapai ATH barunya. Itu membuat saya tergugah untuk mencari tahu lebih jauh tentang Bitcoin. Dan barulah saya tau ternyata sudah banyak institusi besar dunia menyimpan Bitcoin. Beberapa negara dunia juga menyimpan Bitcoin sebagai cadangan negara (reserve) termasuk Amerika, Cina, Inggris, Iran, Buthan, hingga El Salvador secara resmi melegalkannya sebagai alat pembayaran.

Saya pun penasaran dan mulai berfikir, tidak mungkin perusahaan besar mengambil keputusan tanpa pengetahuan dan pemahanan yang mendalam tentang Bitcoin sebagai aset yang mempunyai nilai. Begitu pula sebuah negara, tidak akan mungkin menyimpan Bitcoin kecuali itu benar-benar berhaga. Sehingga kemudian saya mencoba untuk memahami Bitcoin lebih dalam. Karena saya bukan ahli teknologi,  tidak mungkin bisa memahami Bitcoin dengan menganalisa kode-kode program komputer, oleh karenanya saya coba cari sumber lain.

Saya pun mulai menonton beberapa video dokumenter tentang Bitcoin, antara lain "God Bless Bitcoin", "The Rise and Rise of Bitcoin" dan "Misteri Besar Abad 21: Bitcoin".  Film-film tersebut saya tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang Bitcoin, akan tetapi membuka wawasan saya tentang uang yang saat ini beredar di dunia. Perlu waktu panjang jika saya menceritakan pemahaman yang saya dapat dari film-film dokumenter tersebut, beberapa diantaranya sudah saya tulis dalam beberapa ariket di blog ini. Jika anda ingin menyaksikannya anda bisa mencarinya di Youtube.

Tujuh belas tahun meluncur, Bitcoin tumbuh dengan adopsi yang semakin luas, ekosistem Bitcoin juga terus berkembang luas ke seluruh dunia. Jumlah Bitcoin yang hanya akan ada 21 juta unit, lebih dari 95% sudah ditambang dan beredar dalam jaringan Bitcoin. Harga Bitcoin pun pernah menyentuh harga tertingginya yaitu 2,07 miliar rupiah ($126.000) per unit pada 6 Oktober 2025, namun masih ada yang berpendapat saat ini kita berada pada periode awal adopsi Bitcoin.

Dari apa yang sudah saya pelajari, pendapat saya adopsi Bitcoin masih akan terus meningkat. Menurut saya Bitcoin memiliki pontensi menjadi uang masa depan. Atau menjadi back-up (reserve) dan uang di masa depan, yang saat ini tanda-tanda sudah mulai terlihat seperti disampaikan di atas beberapa negara mulai menyimpan Bitcoin sebagai cadangan negara.

Logika sederhana, jika benar saat ini adopsi Bitcoin masih berada pada tahap-tahap awal, maka jika adopsinya terus meningkat, harga Bitcoin juga akan terus naik. Oleh karena itu sebagai bagian dari keinginan untuk memahami Bitcoin lebih mendalam, dan mengikuti perkembangannya, saya sudah berniat akan menabung Bitcoin secara rutin setiap bulannya, InsyaAllah.

Dapat dilihat pada tampilan screenshot aplikasi modal pertama tabungan Bitcoin yang sudah saya beli hari ini adalah Rp. 1.000.000,- pada prakteknya nilai yang masuk mungkin tidak full satu juta, karena pembulatan unit dan biaya-biaya dari bursa (exchange).

Nilai tabungan tersebut akan saya tampilkan pada blog ini dan akun instagram Disclaimer ON. Sampai kapan saya akan melakukannya, saya tidak tahu. Mungkin sepajang saya bisa. Mungkin sampai suatu saat Bitcoin menjadi barang yang sudah diterima secara umum dimasyarakat. Mungkin sampai pada suatu waktu pemahaman saya pada Bitcoin berubah.

Share:

Bitcoin: Evolusi Transaksi Tanpa Batas


Dalam sistem perbankan, semakin besar nilai sebuah transaksi, semakin rumit birokrasinya. Jika Anda ingin membeli aset senilai miliaran rupiah, Anda akan berhadapan dengan pemeriksaan bank, batas harian transfer, dan mungkin juga ada biaya provisi, hingga waktu tunggu yang bisa memakan waktu berhari-hari.

Bitcoin hadir menghilangkan hambatan tersebut yang memungkinkan transaksi langsung antar pihak (Peer-to-Peer) yang menggabungkan kepraktisan uang kartal (uang kertas/logam) dan teknologi digital dengan keamanan tingkat tinggi, tanpa peduli seberapa besar nilai transaksi.

Menghilangkan "Koper Uang" dalam Transaksi Besar

Filosofi Utama: Bitcoin adalah sistem yang memungkinkan Anda menjadi "bank bagi diri Anda sendiri". Transaksi terjadi seperti menyerahkan uang kertas/logam di pasar, namun dilakukan secara digital melintasi ruang dan waktu.

Misalkan saja pembelian sebuah properti atau mobil mewah senilai ratusan hingga miliar rupiah.

  • Skenario pembayaran dengan Uang Kertas: maka Pembeli harus membawa koper berisi tumpukan uang tunai. Ini sangat berbahaya, tidak praktis, dan sulit dihitung secara manual.
  • Skenario pembayaran melalui Perbankan: maka Pembeli dan penjual harus bergantung pada pihak ketiga (bank) untuk memverifikasi dana. Proses ini juga sering tertahan oleh jam operasional bank atau prosedur verifikasi yang berlapis-lapis.
  • Skenario pembayaran dengan Bitcoin: maka Pembeli cukup memindai kode QR penjual dan menekan tombol "kirim". Dalam hitungan menit, "uang" berpindah tangan secara langsung. Tidak perlu koper, tidak perlu pengawalan bersenjata, dan tidak perlu persetujuan manajer bank.

Bagaimana Masalah Perantara Diselesaikan?

Bitcoin menyelesaikan transaksi tanpa membutuhkan pihak ketiga melalui tiga elemen kunci:

1. Verifikasi Otomatis oleh Jaringan

Dalam transaksi tunai, Anda yakin uang itu asli karena Anda memegangnya. Dalam Bitcoin, ribuan komputer di seluruh dunia secara otomatis memverifikasi bahwa dana tersebut benar-benar ada dan sah milik pengirim. Tidak ada ruang untuk "uang palsu" atau manipulasi saldo.

2. Keamanan Kriptografi

Membawa uang dalam jumlah besar di dompet digital jauh lebih aman daripada membawa koper fisik. Transaksi Bitcoin dilindungi oleh enkripsi yang hingga saat ini belum pernah bisa ditembus. Hanya pemilik kunci pribadi (private key) yang memiliki kendali penuh atas dana tersebut.

3. Finalisasi cepat (Settlement)

Begitu transaksi Bitcoin tercatat di dalam blockchain, transaksi tersebut bersifat permanen dan tidak dapat dibatalkan. Penjual bisa merasa yakin bahwa uang telah diterima sepenuhnya tanpa risiko "cek kosong" atau pembatalan sepihak.


Teknologi Bitcoin telah mengembalikan esensi transaksi sebagai hubungan langsung antara pembeli dan penjual. Dengan teknologi ini, mengirimkan satu miliar rupiah sama mudahnya dengan transaksi seribu rupiah, semudah mengirimkan pesan teks. Kita tidak lagi membutuhkan perantara untuk memberi izin atas penggunaan uang kita sendiri. Ini adalah salah satu kemerdekaan finansial.

Namun dibalik kemudahan juga muncul resiko, tidak ada toleransi jika terjadi salah kirim, baik secara tujuan ataupun nilainya. Tidak ada costumer service yang bisa membantu untuk mengoreksi kesalahan transaksi.


Disclaimer: Artikel ini adalah edukasi teknologi, bukan ajakan investasi atau penggunaan sebagai alat pembayaran. Legalitas uang sebagai alat pembayaran jual beli bisa berbeda beda ditiap-tiap negara, termasuk di Indonesia dan menjadi kewajiban warga negara untuk mematuhinya.


Share:

Recent Posts

Popular Post

Disclaimer

Informasi yang disampaikan dalam blog ini bukan rekomendasi keuangan atau investasi. Kami sarankan kepada Anda untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.