Secara teknis, Bitcoin memang menggunakan teknologi kriptografi, yang menjadikannya bagian dari keluarga besar mata uang kripto. Namun bagi Bitcoiner, Bitcoin berbeda dan tidak sama dengan kripto biasa. Mereka memiliki pemahaman mendalam sehingga yang mereka yakin secara fundamental, filosofi, dan fungsi Bitcoin berbeda dari ribuan aset digital lainnya yang sering disebut altcoin atau kripto biasa.
Berikut adalah alasan fundamental memahami Bitcoin itu berbeda, tidak sama dengan "kripto" biasa.
1. Desentralisasi Sempurna Tanpa Kontrol Terpusat
Siapa yang memegang kendali? Ini adalah poin krusial membedakan Bitcoin dengan kripto.
Bitcoin lahir sejalan dengan ideologi Penciptanya dalam memahami uang. Dan sang penciptanya memilih menjadi anonymus, Satoshi Nakamoto, menghilang begitu saja setelah jaringan bitcoin berjalan. Tidak ada CEO, tidak ada kantor pusat, tidak ada yayasan, dan tidak ada tim pemasaran. Jaringan Bitcoin dijalankan oleh jutaan komputer (node) secara sukarela di seluruh dunia. Tidak ada satu orang pun yang bisa mematikan atau mengubah aturan Bitcoin secara sepihak.
Di sisi lain hampir semua kripto lahir sebagai "proyek" memiliki pendiri yang dikenal, yayasan (foundation), atau sekelompok pengembang inti yang dapat mengendalikan arah proyek tersebut. Jika pemerintah ingin menekan proyek kripto tersebut, mereka tinggal memanggil CEO atau yayasannya. Namun di Bitcoin, tidak ada orang yang bisa "dipanggil" atau "diperintah" untuk menghentikan jaringannya.
2. Kelangkaan Mutlak
Perbedaan paling mendasar berikutnya terletak pada jumlah pasokannya.
Bitcoin memiliki batasan pasokan yang mutlak dan tidak bisa diubah oleh siapa pun, yaitu hanya akan pernah ada 21 juta Bitcoin di dunia ini. Sifatnya yang langka secara digital membuat Bitcoin sering disebut sebagai "Emas Digital".
Sedangkan mayoritas token atau proyek kripto lain memiliki pasokan yang bisa diubah, tidak terbatas, atau dikendalikan oleh tim pengembangnya. Jika pembuatnya memutuskan untuk mencetak koin baru, mereka bisa melakukannya lewat pembaruan kode secara sepihak.
3. Komoditas vs. Saham Perusahaan (Sekuritas)
Perbedaan ini bahkan diakui oleh regulator keuangan dunia, seperti SEC Amerika Serikat.
Bitcoin dikategorikan sebagai Komoditas, sama seperti emas atau minyak bumi. Bitcoin adalah aset mentah digital yang tidak bergantung pada "kinerja perusahaan / peran orang dalam" agar nilainya naik. Nilainya murni ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran global.
Namun kripto lain banyak dikategorikan sebagai Sekuritas (mirip saham). Ketika seseorang membeli token kripto baru, mereka biasanya berharap nilainya naik karena kerja keras tim pengembang, strategi pemasaran, atau janji-janji teknologi dari perusahaan dibelakangnya.
4. Penemuan yang Tercipta dari Inovasi bukan Replika
Bitcoiner melihat Bitcoin sebagai sebuah "Penemuan" yang asli.
Pencipta menemukan solusi atas masalah media digital dan ekonomi yang belum pernah terpecahkan selama puluhan tahun: bagaimana cara mentransfer nilai secara digital dari si A ke si B, memanfaatkan matematika tanpa perlu pihak ketiga (seperti bank) dan tanpa bisa dipalsukan. Ini adalah fenomena penemuan kelangkaan digital yang mutlak.
Kripto lain meniru atau modifikasi dari konsep dan teknologi Bitcoin. Karena kode Bitcoin bersifat terbuka (open-source), siapa saja bisa menyalinnya, mengganti namanya, membuat janji bahwa teknologi mereka "lebih cepat atau lebih murah", lalu menjualnya ke publik. Bagi Bitcoiner, hal ini mirip seperti membuat replika emas tiruan dan mengklaimnya lebih baik dari emas asli.
5. Keamanan Protokol Berbasis Sumber Daya (Energi)
Mekanisme di balik berjalannya sistem pertukaran juga sangat kontras.
Bitcoin menggunakan mekanisme Proof of Work (PoW). Untuk mengamankan jaringan dan memverifikasi transaksi, dibutuhkan sumber daya (komputasi dan energi listrik nyata) yang sangat besar. Keamanan Bitcoin "dijangkar" pada hukum fisika dunia nyata, membuatnya menjadi jaringan komputer paling aman di planet bumi.
Kripto lain banyak yang menggunakan atau beralih ke mekanisme Proof of Stake (PoS). Di sini, transaksi diverifikasi oleh mereka yang mengunci atau memiliki koin paling banyak. Bagi Bitcoiner, sistem ini mirip dengan sistem keuangan tradisional yang korup: "yang kaya memiliki suara terbanyak dan yang kaya menjadi semakin kaya."
Untuk memudahkan pemahaman, mungkin bisa dibayangkan analogi berikut:
"Jika Bitcoin adalah layaknya internet". Internet adalah protokol dasar yang gratis, terbuka, tidak dimiliki oleh perusahaan mana pun, dan digunakan oleh seluruh dunia. "Maka kripto adalah seperti aplikasi di atas internet" (seperti Facebook, Netflix, atau Uber), mereka adalah bisnis milik perusahaan swasta, memiliki CEO, bisa bangkrut, bisa menyensor penggunanya, untuk mencari keuntungan pemiliknya.
Ketika para Bitcoiner mengatakan "Bitcoin bukan kripto", ini adalah penegasan bahwa Bitcoin adalah protokol yang netral dan abadi, sedangkan "kripto" hanyalah sekumpulan proyek teknologi, eksperimen perusahaan, atau bahkan sekadar spekulasi yang menumpang ketenaran Bitcoin.




